Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Agustus 2017

Puisi-puisi Ardy Priyantoko



Gimbal

Sebab menanam pasti menuai.
Di-Hyang melahirkan bocah
dari stupa Kolodete.

Sikak Gimbal!
***
Akulah sebab itu.
Langkah yang mengayun
pada tanah gemah ripah.
Bukankah ini ladang surga?

Perhatikan angin
yang mengelus cemara.
Setiap tetes air
tak henti mengalir
menyemai dahaga bunga.
Sedang cahaya mampu
Memanah setiap celah.

Kutitipkan kayangan ini
Pada ruh-ruh yang mampu
menetaskan surga di antara
rekah remah tanah.
Sampai waktu gunung
Meluluhlantakkan
segala yang ada.

Ruwat titisanku
hingga segala yang dipinta
menjadi berkah bagi semesta.
Dan candi-candi bersaksi
ketika mahkota larung dari telaga,
mengalir menuju samudra
tiada.

Jejak Imaji, Mei 2014 





Sungai

Sungai mana yang mengalir
dari dalam jiwaku
saat pagi telah menjamu.
Jangan katakan bahwa
ia terbelenggu.
Aku baru tersadar
dari mimpi tengah waktu.
Bawalah aku!
Mengarungi setiap jengkal
dari arus yang tertuju
pada ketiadaanmu.

Jejak Imaji, Mei 2014


Muara Air Mata

/1/
Bagaimana bisa kuterjemahkan tangis
bila derainya mampu memecah permukaaan sunyi
Haruskah kugali ceruk-ceruk sungai
Untuk mengalirkan air mata yang begitu derasnya

/2/
Aku kembali terpanggil oleh isak tangis.
Kuterjemahkan:
Isyaratnya menuntun jejakku berziarah
Menuju muara yang telah lama kutinggalkan
Di sana kutemukan lagi air mata telah menyatu
Dengan batu-batu

Jejak Imaji, Mei 2017


Pertemuan

Aku menemukanmu
ketika gerimis memanjang
sampai di ujung
bayang-bayang.
Seluruh badanmu gigil,
matamu nanar!
Inikah wajah sunyi
yang kau simpan
selama ini?

Jejak Imaji, Juni 2014 (SUARA MERDEKA, 7 SEPTEMBER 2014)



Jejak Candi

Tangis candi-candi
ngaliri batu-batu, kekekalan
lumut-lumut sepanjang telaga
hijaunya sampai ke kedalaman
sukma

Kita
berlari menjejak
bersetia maknai kerak waktu
terus bergerak
mengarak dingin
kealpaan, kabut
yang melulu gagal luput
dalam benak anak
anak zaman

Tangis candi-candi
kikis rindu-rindu, kelalaian
kerut-kerut kening petapa
coklatnya berai seraki lantai
lantai pergulatan

Jejak Imaji, September 2014


Perempuan Pramusaji

sudah sekian malam kunikmati
senyum di bibirmu paling masai
setiap perjamuanmu mengisyaratkan
pada kekeringan sepanjang
kerongkongan hingga lambung
untuk segera diselesaikan

di tempat ini
lampu tidak banyak
menyimpan cahaya
kursi dan meja sesekali berderit
langkah yang cemas dan bergegas
jadi perhatian tersendiri
seperti gema suara terpental
pada dinding kalender
yang tidak akan berhenti
sampai jam dinding
benar-benar berkeloneng

di tempat ini
kita terbiasa berbincang dengan waktu
memperdebatkan setiap laki-laki
yang datang memesan
senyum dan kedipan matamu

Jejak Imaji, November 2014


Bingkai Jalanan

kutemukan wajahmu
saat cahaya lampu
jatuh di bingkai jalanan
keterasingan sesaat ini
melupakan bahwa langit
begitu lusuh
digerayangi aliran doa-doa
yang tak kunjung padam

sorot matamu bagai cermin
menampakkan setumpuk luka
sepanjang malam
aroma bangkai nasi
tak pernah luput
dari setiap teguk napas
yang menyayat kerongkongan
begitu pula gemuruh
perjalanan waktu
selalu memecah kesunyian
di rongga-rongga telinga

bila nanti senyumanmu
gugur oleh kesepian
pastikan akar-akarnya
tetap tertancap
pada tanah yang mampu
menumbuhkan tunas
bagi senyum yang baru

Jejak Imaji, September 2014 (INDOPOS, 3 JANUARI 2015)





Majestic

Hujan turun sederas rindu dan kesepian kita,
pelukan mungkin akan terjadi,
namun kenangan akan tetap demikian,
kekal dan setia.

Apabila ada sesuatu yang layak untuk kita ingat,
itu adalah kepergian. Kepergian serupa ingatan,
menuntut segalanya untuk kembali.

Kekasih, apabila ada yang harus kupungut lagi
selain dingin kabut, aroma hujan, gerlap lampu kota
sesaat setelah senja, bisikan-bisikan di telinga,
dan pelukan paling hangat,

itu adalah kenangan yang kau tinggalkan
setelah sekian waktu kurawat
dengan kemegahan duka cinta.

Jejak Imaji, 2017


Kau Adalah Puisi Musim Hujan
: Majestic

Kau adalah puisi musim hujan
yang selalu bersiap tabah,
saat butir air jatuh di tanah basah.

Sebelum angin benar-benar menghempas,
izinkan aku mencipta pusaran
agar nanti kau tahu bagaimana cara
menghadapi ketidakpastian.

Kau adalah puisi musim hujan,
dan aku adalah kemarau yang cemburu
pada angin yang mencipta jarak.

Aku bergerak: menujumu
dan kau terlalu cepat
meninggalkan kesepianku.

Jejak Imaji, 2017





Pertemuan

Saat kita bertemu, aku tidak langsung
mengulur tangan: memelukmu,
tapi kubiarkan rindu berkejaran dulu
di antara dengung kembang api
dan remang lampion.

Aku tidak segera merapatkan bibir
pada keningmu, kupersilahkan dulu
sisa-sisa ingatan menata ruang sunyi
yang lama tidak dihuni.

Kemudian diam-diam aku memandangmu,
sebagaimana kau lekat memandangku.

Jejak Imaji, 2016


Perempuan Botol

Perempuan itu berumah di lereng bukit,
di tepi ladang ubi tidak jauh dari mata air
yang mengalir melintasi bayang-bayang
kurus pohonan menuju anak-anak sungai.

Di bulan basah.

Ia sambangi arus yang sendu
untuk mengisi botol bertutup rindu.
Adakalanya bibirnya yang masai itu
mampu memecah hening batu-batu.

Demikian setiap hari, ia berjalan
menurut nada gemericik air,
menenteng botol dengan tangan kelu.
Satu persatu anak yang lahir
dari rahim bumi ia sirami.

Ada kalanya isi botol itu
digunakan untuk membasahi
anak dari rahimnya sendiri.

Di bulan kering.

Setiap hari ia mengisi botol
dengan peluh dan air mata.

Ia berjalan
menurut nada gemericik air,
menenteng botol-botol itu
sampai matahari sepenggalah
dan akan kembali lagi
ketika langit memerah.

Jejak Imaji, 2016. (MEDIA INDONESIA, 29 JANUARI 2017



Jantung Rumahmu

Jika boleh kukatakan, aku ingin pulang, Mak
kembali menuju haribaan yang kau namai rindu.

Sekali lagi, aku ingin mengemasi sisa-sisa ingatan
menghitung rambutan setengah matang di halaman kakek
atau menyemai biji padi di sawah garapan kita.

Tetapi jarak masih asing terhadap kepulangan
impian yang memanjang tetap tidak mengizinkan.

Keduanya selalu muncul dari balik jendela kamarku,
terkadang mengetuk pintu saat aku tengah bermimpi,
atau sesekali menggaruk gatal di punggungku.

Aku benar-benar ingin pulang, Mak
menyusuri tepi kali serayu, memetiki mundu dan jambu
menyiang rumput-rumput yang terlihat lesu.

Tetapi, lagi-lagi dalam keheningan aku bertanya
di manakah kiranya tanda jantung rumahmu
yang tidak pernah kusua di saban dada perempuan.

Yang sebenarnya tidak pernah ada selain milikmu
yang misteri, dan memenuhi masa silamku.

Jejak Imaji, 2017


Hujan Bulan Januari

Aku mencintaimu tepat
saat hujan pertama jatuh di bulan januari.

Namamu yang melulu kueja dalam kesiap doa
akan kembali, sebagaimana rotasi jarum jam
yang terus berputar bersama degup di dada.

Aku melepasmu tepat
saat hujan terakhir jatuh di bulan januari.

Sedetak kemudian aku akan menjadi jarum yang patah
sebelum menuntaskan putaran yang akan menghapus
ingatan tentang pertemuan dan senja yang memerah.

Jejak Imaji, 2017


Apabila Aku Mengenangmu, Na

Pada gerai rambutmu yang dipermainkan angin
kembang-kembang mekar, membujuk segala giris
kembali menuju desis gerimis.

Biarkan aku tenggelam dalam basahmu,
menyemai hasrat yang tergiring ke batas waktu.

Pada tengkukmu yang dipenuhi bulu roma,
kecupan demi kecupan jatuh
seperti kelopak berlepasan.

Dan aku sungguh tersesat,
segugup burung di malam yang lesat.

Kemudian kita beranjak dari pertemuan
ke pusat hening masing-masing
menyuruk diri ke sudut paling asing.

Na, apabila aku harus mengenangmu,
hanya rindu yang tak kunjung tiris
pada kening, mata, pipi, dan bibir masaimu.

Jejak Imaji, 2017 (SUARA MERDEKA, 5 FEBRUARI 2017)




Anak Tembakau

Sesaat matahari sepenggalah, kupandangi gigir ibu
dan para petani yang begitu tenang memetik kesedihan
di antara lembar-lembar tembakau yang tidak pernah cukup
untuk membesarkan anak-anaknya. Tumbuh menguncup,
mekar, berbunga di ladang nasib dan hari yang bermuka dua.

Kemudian aku menepi, duduk terdiam memangku harapan
dan buku pelajaran setelah letih menanam benih impian
di lubang-lubang bangku sekolah yang sunyi dan berdebu.

Kali ini, musim masih terbidik mata angin.

Selepas bulan kering, sebagaimana setelah menerima buku rapor
aku termangu seperti ibuku, memandangi awan, gunung
dan sulfatra tipis yang bergerak mengikuti arah angin,
telentang dengan punggung lebam dan raut muka kelewat pasi.

Remah-tanah yang kami pijak juga terus menggumpalkan kecemasan
tentang spp yang belum tebayar dan tebusan beras harian,
kesemuanya berderak-bergerak dari bakul ke cangkul,
dari mulut ke lumut, dari satu kelangkang ke kelangkang lain.

Musim tetap terbidik mata angin.

Aku ingin mengabarkan pada malam, ketika angin lembah
dalam tubuhku meyeret ketakutan ke ladang tembakau yang memutih,
debar akan terus selimuti tubuhku ketika tajam batu dan undakan
adalah kenyataan yang harus segera dituntaskan.

Saat bulan basah tiba dan membuka tirainya, aku harus memahami
bahwa yang tersisa hanya batang-batang dan ranting kecoklatan
serta tanah garapan tempat duka dan impian kekal bersemayam.

Jejak Imaji, 2016


Antologi Surabaya Memory (2015)

Membaca Peta Ibu Pertiwi
/1/
Kerap kita baca peta tanpa arah mata angin
arungi rotasi matahari, lawan aralnya.
Menembus pusaran tersembunyi,
yang di dalamnya tumbuh
tanah dan batu-batu, petuah ibu pertiwi.
Pelayaran kita mengeja nama-nama,
memaksa kemudi berputar arah
hingga tak didapati lagi
di mana simpang dan ujungnya.

/2/
Berapa waktu dibutuhkan kesangsian
untuk meruntuhkan lambung kita
yang senantiasa terjaga dari dahaga
dan lapar sepanjang malam?
Barangkali musim dalam hitungan jemari
tak cukup untuk mencatat kebulatan
di setiap sudut bibir,
yang sengaja kita kunci rapat-rapat.

/3/
Perjalanan kita baru separuh dari seluruh,
tak akan pernah berhenti sampai bola mata
benar-benar dibutakan terik kehidupan
di lorong perbatasan yang redup redam.

/4/
Membaca peta.
Kita sempatkan singgah di ceruk-ceruk mimpi
masuki harapan yang sesak bayang-bayang.
Dan dalam genggaman getar sajak-sajak,
kedua tangan kita menyeruak
mengupas perbedaan sampai ke keraknya.
Hingga benar terlihat tujuan kita membaca peta
: menandai dengan arah mata angin
yang sesuai dengan nurani!

Jejak Imaji, 2015 (Antologi Requiem Tiada Henti (2017)





Analogi

/1/
Usai mengucap doa dan menulis puisi
ibu menyambangi hutan jati.
Di dahan terendah dan terkuat ia ikatkan tali,
melingkarkan jerat ke leher yang pasi.
Seperti memakai sekalung emas yang tak mampu ia beli.

Aku tak paham dengan perbuatannya,
yang kutahu saat itu langit pucat telah digulung merah fajar,
di tepi bibir ibu setetes senyum menitik,
memadatkan debu dan waktu.

/2/
Malam telah melepas bidai di tubuh fajar.
Ibu tergelapar, sepasang sayap menyeruak
dari punggungnya. Lalu, ia terbang begitu tinggi,
seperti harapan yang kupanjatkan dalam kesedihan ini.

Tepat di balkon langit ibu berhenti, mengerling mata
berharap aku atau kamu menyusul ke kerajaan tuhan,
yang kesempurnaannya melebihi mimpi.

Lama ia melayang, menerawang, tubuhnya merah menyala
seperti warna darah yang keluar dari kakinya,
saat tajam batu-batu adalah kenyataan pertama
yang mesti dituntaskannya.

Bias kemerahan fajar membuat gelombang awan samar
bintang semakin pudar, separuh bulan samar
seluruh rangkaian tali malam terbakar
tapi kehidupan pagi masih rapat tertutup layar.

Di cermin mataku segalanya merah, semuanya darah.

/3/
Nak, mengapa kau memelukku?
Jangan takut pada darah, jangan pernah.

Sebab bila aku pergi,
kau masih harus terus berdiri,
mengalirkan darah di tubuhmu.

Nak, rebahlah di sampingku,
namun jangan genggam tanganku.

/4/
Tubuh fajar perlahan lumer, memenuhi langit
darah hari sesaat lagi kering oleh matahari.

Kali ini senyum kerap menitik di sudut bibirku
melihat darah dari tubuh perempuan
yang tiap malam dihantam kesakitan.

Lalu, andai senyum yang menitik itu mengering,
aku ingat, selalu ada senyum lain dalam tubuhku.

Jauh di atas kepala bagai kelopak padma mekar,
matahari berpijar. Di sekeliling kakiku,
debu dan waktu masih terus memburu.


Yogyakarta, 25 Shafar 1437 H (Juara III Rising Orange UAD 2015)




*Ardy Priyantoko, lahir di Wonosobo 19 Desember 1992. Sedikit karyanya termaktub dalam antologi bersama dan tersiar di sedikit media. Saat ini aktif berkegiatan di Jejak Imaji (Yogyakarta) dan Komunitas Sastra Bimalukar (Wonosobo). Pernah menempuh pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Pos-el: ardypriyantoko@gmail.com. No. Gawai 08562572254.
Share:

Sabtu, 22 Juli 2017

Puisi-puisi Ir Rabani

Ikhbar Senja[1]

Denda, ingat tidakkah kau pada ikhbar senja yang dulu maksa kita buat lari ngambil peci, pergi ngaji bawa iqra?

Baru kuingat kata Tuan Guru, ada kalanya santren cuma tiang yang bakal tinggal, sepi bersawang, dan dihias kenang yang buntang.

Siapa tau, nanti selepas magrib, Quran ditartilkan seperti tembang-tembang sumbang.

Saat malam Jumat telah sunyi, tak beda dari malam biasanya, siapa kiranya yang bisa nyanyi barzanji?

Kita hanya laron yang buta pusat cahaya, terbang sembarang selepas hujan, lalu di tanah lecah melepas lelah.

Denda, selepas percakapan kita, entah santren makin bersawang atau malah ikut buntang, siapa peduli? Sedang kita terlanjur pengap dan berindap, perlahan-lahan hirap-lenyap.


Jejak Imaji – Yogyakarta, Mei 2016



Di Senja Raya[2]

Selepas senja kala, kita telah janji kan sua, akhiri imaji lama yang tak sempat kita rajut, berdua. Inginku, tak perlu kau bawa belida saat kutarik juntai kenanga di berai rambutmu, Denda. Sebab sejenak, kusimpan ia di gubuk sanak.

“Di tepi senja raya, biarkan kata-kata yang coba mewarta kita, kusut oleh angin, sebab tiada rahasia yang lebih purna dibanding sua kita.”

Biar saja nyanyi jangkrik iringi malam, sembari kita mengendap-rayap meraba lusa, di mana gula-garam teraduk, lalu kita teguk dari setadah mangkuk.

“Selaku Nitra, kau harusnya tak ragu. Sebab, bukan Gendawa yang kuperankan, tapi Gurantang yang menjemput patahan rusuk, di sepi malam.”

Denda, kita tinggalkan langit yang melepas jingga, lalu saling sulam dengan malam.

Sampai saatnya, benang terpintal jadi temali, lantas kuikat pada sukmamu, di mana kau dan aku takkan lagi berkawan sunyi.


Jejak Imaji – Yogyakarta, Mei 2016



Rahasia[3]

Kau tempatkan aku pada ruang paling malam di hatimu, tertimbun bagai pusara tanpa nisan, yang kapan saja dapat kau gali, semaumu.

Aku bakal buntang dan hilang, saat wujudku terwakili kata-kata. Sebab aku lebih hening dari telaga tanpa riak, tapi bergejolak jikalau kau telah sangsi atas ihwalku.

Kita dalam dimensi yang tak sama, hadirku atas perangaimu. Akulah molekul kata-kata yang kau pendam-peram, musabab diam.

Aku sudut sunyi di sukmamu, terus meronta tanpa suara, dan menjelma gulana dalam mimpi. Maka, pada perbinacangan yang bertaut denganku, lepaskan aku bagai air mengalir, terpancur lewat kata paling jujur.


Jejak Imaji – Yogyakarta, Mei 2016



Mencari Sekar Nitra[4]

Sebagai Gurantang, kau adalah ketakutan yang mesti kuselamatkan, merebutmu dari Gendawa yang kini rupa dan perangainya menipu mata.

“Sebab kau, tak lagi kupahami sabda embun di pucuk rotan, yang merayap ke punggung pencarian!”

Hari ini, embun sahaja lahir atas namamu. Maka, segala dapat kupercaya kata dan isyaratnya.

Tapi Nitra, benarkah kau juga menunggu datangku? Sedang tanda dan isyarat yang kuterima, tak lebih dari angin yang menabrak tubuh, angkuh menahan langkah.


Jejak Imaji – Yogyakarta, Maret 2016



Bersua Mandalika[5]

“Dari onggok karang yang menjulang, kukenang kau menerjang lautan, hingga hilang digulung gelombang.”

Februari dini, selepas hunjam hujan malam, kurapal mantra jaring sutra, menagih janji sebelum pasir mendesir lagi. Duh, kala kita siap bersua, barangkali ombak sengaja tiada, sebab dada lebih berdebur, tanpa reda.

“Masihkah janji seteguh karang, Mandalika?”

Kuselam tepi malam, langkah menjamah laut surut, tapi tatap yang lindap tak mampu menerawang remang. O Denda, sebab kau tak juga tiba, kulantunkan rayu Datu Teruna, lalu tubuhmu menyembul-membubul, bawa cahaya dan laksa nugraha.

“Adakah yang semesra sua kita?”


Jejak Imaji, Yogyakarta – Februari 2016



Pelajaran-Perang[6]

Selepas ngaji dari santren, Mak, sarung kugulung, dan penunjuk Qur’an kuganti dengan mata jungkat.

Sebelum keluar, akan kugorok-tebaskan pesan Tuan Guru, yang tumbuh di tubuhku. Sebab ia, cumalah bendung paling bertuah, yang membikin urung perang.

“Apa lagi yang lebih puisi bagi kami, selain darah sepanjang parang-kelewang, juga isyarat darurat-gawat di mata jungkat?”

Telah, kutanam kata-kata di sukma, tumbuh, lalu berbuah angkuh dan bergetah darah. Maka, sejarah demi sejarah yang kutanam cumalah darah-nanah, Mak.

Dari mulut guru, segala jelma gambar jungkat di meja-meja madrasah, sementara di santren, lurus alif serupa parang-kelewang bagi mataku.

Darah, sepanjang jalan pulang. Tubuh musuh yang mati-lumpuh, akan kucincang dan kupajang di gerbang dan tembok-tembok ruang.

“Apa lagi yang lebih seni bagi kami, selain ciprat darah di sudut-sudut rumah?”

Sepulang dari perang, Mak, jungkat kusarung, dan mata air air matamu adalah padam bagi dendam, yang menyuluh di tubuh.


Jejak Imaji, Januari 2017



Bermain Parang[7]
: Kè’ Lèsap

“Dari sulur bunga siwalan, mengucur sari-sari nira
dari ketakutan dan pelarian, punggung-punggung kita jadi terluka
maka biarkan aku menutup mata dalam mabuk, lantas membusuk
setelah tertusuk di dada paling jeluk.”

Di sudut rumah, lambat-lambat parang akan berkarat
sebab esok, tangan anak-cucu tak lagi bertulang, tak kuat mengangkat
apalagi membabat leher-leher yang khianat.

Ajarkan padaku, bagaimana parang mesti dimainkan
juga padanya, bagaimana mantra ditiupkan
sebab sering kali sepajang jalan, penjajahan dibangkitkan.

Bukankah kesakitan mesti dinikmati, Ki? Maka tusuklah aku
sebagaimana tusuk pada dadamu, biar kelak kesakitan
kukabarkan pada pokok-pokok siwalan, dan disampaikan
lewat air pesing sisa kolang-kaling.

Ajarkan padaku, bagaimana parang mesti dimainkan
juga padanya, bagaimana mantra ditiupkan
sebab sesekali, anak-anak akan membentak ibu-bapak
dan di langgar-langgar, perjanjian dengan Tuhan dilanggar.

Di sudut rumah, lambat-lambat parang patah berkarat
sebab anak-cucu matanya buta, tak tahu apa
apalagi soal bermain dan main-main.

“Dari sulur bunga siwalan, mengucur sari-sari nira
dari nista dan lupa kita, maka segala menjadi kenang
dan membuntang di petang yang panjang.”


Yogyakarta, Februari 2017



Pelayaran Kembali[8]
: Sak-sak

Kelak, di barat daya pulau ini, akan kurakit kembali kapal Sak-sak
kuutus-layarkan ia ke Tanah Mataram, sambil memungut sejarah
di palung Selat Bali, yang tenggelam seribu tahun silam.

Pelayaran kembali, kumulai selepas sesak pohonan sisa Anjani
kubabat-habiskan dengan kelewang-kelewang panjang
sepanjang kelupaan demi kelupaan yang mengiris-kikiskan ingatan kita.

Bagi nakhoda, juga para penumpang
kuharamkan menyuka dan menyaku kenangan
meski sebesar percik di lautan.

Takkan ada pulau singgah, sebab perjalanan kembali
sering kali dihempas dan dirubah-arahkan gelombang pura-pura.

Seperti puncak Rinjani yang lengang-hilang kepada tiada
kita akan pulang ke tanah sejarah paling palung: sebermula ada kita.

Sesampai di Tanah Mataram, akan kususun-bangkitkan
tubuh Raja Surya, dari serakan aksara di lontar Kotaragama
lantas kubiarkan ia membelah malam, sambil merapal-rapal doa jaring sutra
yang menyembul-bubulkan janji-janji yang terkubur.

Seperti Jowarsah pulang ke tanah kelahiran
maka sejarah dan janji-janji yang kembali, bakal melumpuhkan pura-pura
sebagaimana angin pasat tenggara, tertekuk-lututkan di gerbang Kanoman.


Praya, Januari 2017



Riwayat Istri Taat[9]
: Masmirah[10]

/1/ Wanita Kacang Panjang

Dalam pejam, aku terkenang jarak sepasang alismu:
ia mengajarkan rindu.

Lentik bulu matamu
persis putik kembang-kembang kacang panjang
menggantung di pancang-pancang
yang dipersiapkan sedari ditanam
sedari pertemuan.

Apabila musim berbuah datang sudah
kau menjinjing bakul berjalan cantik dan cerdik
sepanjang pematang yang mewakili harapan-harapan:
kalau malam kau keluhkan.

Kesepian meyakinkan kita
bahwa rumput dan dedaunan
tidak sepenuhnya diluapi sepi dalam diamnya
ia berdoa sebagaimana aku mendoakanmu
agar upah tidak terbengkalai
oleh kendala-kendala yang dikirim musim.

Jika panggilan mengiang dari hari depan
suara patahan tangkai buah adalah sahutan
sekaligus kedip persetujuan:
kau tengah memadat-pampatkan isi bakul
sekaligus kemapanan dalam diri.

Pagi-pagi sekali
di tengah pasar mingguan
kau menggelar tikar berjualan:
tangan-tangan datang memilah dan memilih
sesuai kuantitas dan kualitas kegelisahan.

Petang-petang sekali
kalau di berugak laki-laki datang meminang
kau menggulung tikar pandan
sebab pengabdian belumlah dituntaskan.

            /2/ Wanita Rumah Jajar[11]

Di berugak[12], kau menjamu tamu
di atas bilah-bilah bambu yang membelah jarak
pemisah jari-jari dari jabat
yang mengekalkan jeri di kedalaman dada.

Di berugak, kau menjamu belian[13]
dengan sadah, sirih, dan kopi diseduh
juga pinang yang terbelah seperti kita
mulai memisah-misah dalam kebersamaan.

Terdepan adalah kehormatan
maka aku dan lelaki pengapel lain
perlu dihargai sekaligus menghormati
sebab menenteng kemungkinan-kemungkinan:
harapan atau tipu, setipis ampas bambu.

Di bale tani, rencana demi rencana kau susun semenjak di serambi
lantas sebelum ditanam, dipendam berbulan-bulan di para-para kamar
biar bangun, ingatan menjadi basah dan lecah seperti tanah sawah.

Di kamar dalam, rahasia dan luka kau simpan dalam-dalam
sebelum sisa ingatan dimasukkan ke rantang-rantang
dan ditenteng ke jalan pengembaraan.

Tapi sebelum itu
di sekenam[14], persiapan adalah mula pengembaraanmu
seperti perjalanan gulungan benang
di panjang palang jajak[15].

Kau adalah lungsin-lungsin[16], dikencangkan dan telentang
dengan dada dibuka lapang, lantas siap disisip motif
ulang-aling dari pengiring[17].

Di dadamu, tata krama disemat kuat sampai pampat
sebelum berharkat istri yang taat.


Jejak Imaji, 2017



[1] Puisi ini termuat dalam Antologi Puisi Rumah Penyair 4 (PBSI UAD, 2017).
[2] Puisi ini termuat dalam Antologi Puisi Rumah Penyair 4 (PBSI UAD, 2017).
[3] Puisi ini termuat dalam Antologi Puisi Rumah Penyair 4 (PBSI UAD, 2017).
[4] Puisi ini termuat dalam Antologi Puisi Rumah Penyair 4 (PBSI UAD, 2017).
[5] Puisi ini termuat dalam Antologi Puisi Rumah Penyair 4 (PBSI UAD, 2017).
[6] Puisi ini terpilih sebagai nominator dalam “Lomba Cipta Puisi ASEAN 2017” yang diselenggarakan oleh DEMA FTIK IAIN Purwokerto dan termuat dalam buku Requiem Tiada Henti: Kumpulan Sajak Penyair ASEAN-1 (SKSP, 2017).
[7] Puisi ini termuat dalam Antologi Puisi Nusantara Lebih Baik Putih Tulang Daripada Putih Mata (KML Bangkalan, 2017).
[8] Puisi ini termuat dalam Antologi Puisi Nusantara Lebih Baik Putih Tulang Daripada Putih Mata (KML Bangkalan, 2017).
[9] Puisi ini terpilih sebagai Juara II dalam “Lomba Penulisan Puisi Remaja DIY 2017” yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (BBY) dan selanjutnya dimuat pada kolom Budaya koran Merapi edisi Jumat, 16 Juni 2017.
[10] Nama “Masmirah” merujuk pada panggilan kasih sayang kepada seorang wanita yang lazim didengar di kalangan masyarakat Sasak, di samping beberapa istilah lainnya.
[11] Rumah jajar atau disebut juga bale jajar, yakni bangunan rumah tempat tinggal masyarakat Sasak golongan petani yang terdiri dari berugak (gazebo khas Sasak) di bagian paling depan untuk tamu, bale tani atau rumah utama di tengah, dan berugak sekenam di bagian paling belakang berfungsi sebagai tempat belajar menenun, belajar tata krama dan nilai budaya, serta tempat pertemuan internal keluarga.
[12] Berugak atau berugaq, yakni bangunan (gazebo) khas Sasak berupa panggung terbuka dengan empat tiang dan atapnya menyerupai lumbung.
[13] Belian adalah sebutan untuk dukun Sasak.
[14] Sekenam, biasa juga disebut berugaq sekenam, yakni bagian paling belakang dari rumah jajar yang berfungsi sebagai tempat belajar menenun (khusus wanita), belajar tata krama dan nilai budaya, serta tempat pertemuan internal keluarga.
[15] Jajak, bagian depan alat tenun Sasak yang berposisi berdiri membentuk segi panjang di sebelah kanan dan kiri, dan memiliki palang tempat menggulung lungsin.
[16] Lungsin atau lusi adalah benang tenun yang disusun sejajar dan tidak bergerak (memanjang dari palang jajak) yang padanya benang pakan dari pengiring diselipkan dengan cara diulang-alingkan.
[17] Pengiring adalah alat penggulung benang hasil pintalan yang diulang-alingkan pada lungsin untuk membuat motif kain.
Share: