Selasa, 05 April 2016

KESATRIA YANG SEDANG MENCARI (MEMBACA PUISI RABBANI)




           Kesatria yang Sedang Mencari (membaca puisi Rabbani) - Saya kira hampir setiap manusia memiliki misi di setiap kehidupanya, entah apa itu, jika belum bisa menemukanya dapat dikatakan kita masih dalam keadaan “amnesia” dan berusaha untuk menemukanya. Usaha yang telah dilalui selama ini, juga ketika anda sedang membaca tulisan saya, merupakan suatu usaha meniti langkah demi langkah untuk mencapai garis itu. Beruntung kepada seseorang yang telah menemukan apa yang sejatinya dalam hidup, jika telah menemukanya kemudian digunakan sebagai kompas untuk menentukan kemana langkah selanjutnya akan ditempuh. Jika anda bertanya bagaimana dengan saya? Sayapun masih dalam tanda tanya besar, masih berusaha menyingkapkan tabir itu, berusaha untuk merobohkan sekat-sekat labirin, sampai menemukan titik cerah yang mengisyaratkan jalan keluar yang harus dituju. Ada satu kalimat yang saya ingat dari DEE “Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi kita lagi.”
Share:

Minggu, 17 Januari 2016

MEMBACA DENGAN CERMIN DAN MEMBACA DENGAN RASA


Membaca dengan Cermin dan Membaca dengan Rasa

Kota Gede, komunitas belajar sastra Jejak Imaji kedatangan sesepuh sastra Yogyakarta, Iman Budhi Santosa. Kedatangannya di sekertariat Jejak Imaji untuk berbagi pengalaman sebagai penulis yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia sastra.
“Pertemuan ini untuk menjawab kegundahan penulis muda dalam mencipta karya yang sering mandek, sementara mereka terus produktif dalam berkarya. Mestinya bisa menjadi contoh bagi penulis muda untuk terus mengasah kemampuannya.” Terang Iqbal H Saputra (17/1/2016)
Acara ini juga dijadikan media silaturahmi penulis muda kepada sesepuh sastra di Yogyakarta.
“Tentu saja dengan silaturahmi ini selain belajar pada sesepuh, kami berharap para penulis muda mampu menjalin komunikasi dengan yang sudah lebih dahulu berkecimpung di dunia sastra.” Sambung Iqbal.
Dalam acara yang dihadiri lima belas orang ini Iman Budi Santosa berbicara tentang masalah proses kreatif.
“Kembali lagi pada falsafah Jawa, menulis itu adalah membaca dengan cermin dan membaca dengan rasa. Selama ini masalah utama penulis muda adalah malas membaca, sehingga dalam menulis seringkali ide habis di tengah jalan.” Terang Iman. (afr/sur)




Share:

Jumat, 23 Januari 2015

ESAI "SASTRA DAN REALITA MASYARAKAT"



Sastra dan Realita Masyarakat

Sastra adalah intuisi sosial yang memakai medium bahasa. Teknik-teknik sastra tradisional seperti simbolisme dan matra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Lagi pula sastra ”menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia (Wellek dan Austin, 2014: 98). Jadi pada dasarnya sastra  merupakan cermin kehidupan masyarakat. Terciptanya sebuah karya sastra tidak pernah lepas dari faktor sosial pengarang dan lingkungan kehidupannya. Karya sastra sendiri bersifat subjektif
Share:

ESAI "KACA PERTAMA"



Kaca Pertama Dalam Cerpen berjudul Cerita Sebelum Tidur

Disadari atau tidak, setiap tukang cerita tentu telah meneladani kecerdasan Syahrazad. (Damhuri, M. 2010: 109). Pernyataan ini bisa dikatakan bahwa Mohammad Diponegoro mempunyai kesamaan pendapat. Rahasianya terletak dalam teknik dasar menuturkan cerita. Scheherazade menguasi teknik itu. (Diponegoro, M. 1994: 64). Begitu kira-kira pendapatnya.
Apa maksudnya? Dalam dunia cerpenis, Scheherazade tentu tidaklah asing dalam kisahnya. Yakni cerita bersambung dengan judul Seribu Satu Malam ini secara tidak langsung
Share:

ESAI "BERKELANA MENCARI HAN"



Esai Berkelana Mencari Han
 
Banyak penyair yang menuliskan kisah perjalanan menjadi sebuah karya sastra khususnya puisi. Seperti halnya Angga T Sanjaya yang menbuat kisahnya menjadi puisi perjalanan, entah itu perjalanan fisiknya ataupun perjalanan batinya. Dari puisi yang disuguhkan oleh Angga T Sanjaya mulai dari Ah Poong, Sore Yang Gerimis, tengah malam di taman Ismail Marzuki, dari dalam kereta, dari cacatan seorang penyair.
Share:

ESAI "MENCARI MAKNA DALAM KETERASINGAN DAN DERITA"



MENCARI MAKNA DALAM KETERASINGAN DAN DERITA 

Ketika saya membaca sajak AnggaT Sanjaya, saya seperti diajak melakukan sebuah perjalanan, secara batiniah. Dan dalam proses kontemplasi dari setengah sadarnya (subconsius) Angga menuangkan ke dalam bentuk sadarnya (concius) yaitu berupa sajak. Dan kekuatan karya sastra sendiri dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang mampu menungkapkan ekspresi kejiwaan itu ke dalam sebuah cipta sastra. Dan dasar analisis secara psikologi sendiri
Share:

ESAI "PUISI, TRADISI, DAN PERLAWANAN"



PUISI, TRADISI, DAN PERLAWANAN

Seperti halnya mengenal dan menilai seseorang, membaca sebuah puisi memiliki arah yang sama. Dalam taraf pengenalan, tentu proses untuk mencari identitas seseorang menjadi penting jika kita nantimemang akan bersinggungan dengannya. Bukan hanya bentuk dan fisik, tetapi pada akhirnya, pencarian tentang siapakah dia, bagaimanakah wataknya, serta seperti apakah pola hidupnya, saya kira harus dilakukan. Tanpa itu semua, penilaian kita hanya akan sampai pada
Share: