Kamis, 20 Juli 2017

POLARIS

POLARIS
Wika G. Wulandari
            Orang bilang kota ini adalah kota nelayan. Ayah saya nelayan, kakek saya pun nelayan. Semua tetangga saya nelayan. Teman-teman SD saya dulu, bila ditanya apa cita-cita mereka, tanpa ragu dijawablah nelayan. Bahkan perempuan pun banyak yang ingin menjadi nelayan.
            Hanya saya satu-satunya yang bercita-cita keluar kota. Melihat wujud nyata ibukota, bapak kota, atau apa pun nama kota itu. Saya ingin belajar di kota orang. Mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, sebelum pulang dan menikah dengan seorang nelayan.
            Ayah awalnya tak mengizinkan. “Buat apa keluar kota? Di sini pun kau akan belajar banyak. Tentang laut, tentang para nelayan, dan apa pun yang ingin kau ketahui. Tak perlulah pergi jauh-jauh!”
            “Nelayan pun harus pergi jauh bila ingin dapat ikan banyak,” jawab saya sedikit ngeyel.
            Ayah tersenyum dan mengangguk. “Saya mengerti, Lia. Kau ingin pergi karena jenuh dengan kota ini. Kau ingin sesuatu yang baru. Penasaranmu tinggi, saya tahu itu. Biar saya pikirkan dulu. Kau anak perempuan saya satu-satunya. Tak tega saya melepasmu sendiri.”
            Bukan hal lumrah memang seorang perempuan di kota kami pergi merantau sendiri. Terlebih lagi bila belum menikah. Saya paham mengapa Ayah perlu waktu untuk mempertimbangkan permintaan saya. Selain karena biaya, Ayah pun tak rela bila harus mengambil risiko dan mengorbankan saya.
            Sambil menunggu keputusan Ayah, saya melihat teman-teman SD, yang sekarang sudah berkepala dua, melaut. Dari dulu hingga kini, tak satu pun yang meleset. Semua yang pernah bilang ingin jadi nelayan, benar-benar jadi kenyataan. Tapi tidak saya temukan binar bahagia di wajah mereka. Seperti mereka sudah tahu akhirnya akan begitu. Gampang ditebak.
            “Ikan apa yang kalian cari hari ini?” saya bertanya sambil duduk di ujung perahu.
            Yamin, laki-laki yang dulu pernah bilang suka ke saya, memandang laut sejenak. “Cuaca hari ini hanya memungkinkan kami menangkap cakalang. Kalau tidak dapat, tude pun tak apa.”
            “Kapan pulang?”
            “Besok subuh. Bila polaris sudah muncul.”
            Saya sering mendengar Ayah berbicara tentang polaris. Tapi saya tidak terlalu tertarik dengan nama itu. Tidak hanya Ayah, hampir semua nelayan yang saya kenal pun membicarakan tentangnya. Barulah ketika Yamin menyebut nama itu lagi, saya mulai penasaran.
            “Apa itu?”
            “Bintang yang kami gunakan untuk penunjuk jalan pulang.”
            “Oh, seperti kompas alami?”
            Yamin mengangguk sambil sibuk membereskan jala. Malam itu dia berangkat bersama tiga orang teman kami, Somad, Ipul, dan Acan. Mereka berempat memang sudah dekat sejak SD. Setelah melihat mereka mulai mendayung, saya memutuskan pulang jalan kaki.
            Di rumah Ayah sudah menunggu dengan sarung shalat dan secangkir kopi hitam. Dia memandang wajah saya lamat-lamat. Saya tahu apa yang sudah menjadi keputusannya.
            “Terimakasih, Ayah,” ujar saya seraya mencium tangannya penuh haru.
            “Jangan lupa pulang setahun sekali, Lia. Di rumah tinggal saya sendiri. Bila kau tidak pulang-pulang, saya akan hidup sebatang kara.”
            Saya mengangguk. “Tenang Ayah. Saya akan pulang. Bila perlu enam bulan sekali.”
***
            Terhitung sejak malam itu sudah satu tahun saya merantau di kota Merah. Jaraknya ribuan kilometer. Saya selalu menumpang kapal barang karena tak suka berdesak-desakkan di kapal penumpang. Walaupun lebih murah, di kapal barang saya selalu diberikan makan sehari sekali. Perjalanan ke kota Merah memakan waktu satu minggu penuh.
            Dan hari ini saya akan sampai di kota nelayan setelah satu tahun merantau. Ayah sudah saya kabarkan lewat pos dua bulan lalu. Dia menitip ikan asin dan jajanan khas kota merah. Karena banyak bawaan, saya meminta Ayah menjemput dengan becak.
            “Kau semakin gemuk, Lia,” ayah tertawa.
            Sepanjang perjalanan saya temui banyak perubahan di kota nelayan ini. Teman-teman tidak sempat berkunjung di hari pertama saya tiba. Mereka sibuk melaut. Katanya sekarang sedang musim ikan tuna, jadi mereka akan berkunjung besok atau lusa. Bila sempat.
            “Anak siapa itu, Yah?”
            Ayah tidak menjawab sampai kami melewati rumah Nyai Salamah. Dulu, setelah ibu meninggal, saya kerap dininabobokan oleh Nyai Salamah, bersama anak perempuannya, Sita. Saya lebih tua dua tahun dari Sita, tapi dia enggan memanggil saya kakak. Mungkin karena kami sudah terlalu dekat.
            “Itu anak Sita. Umurnya satu tahun.”
            Saya kaget bukan main. Setahu saya Sita harusnya lulus SMA tahun ini. Dia dulu adik kelas saya, pun pernah berpacaran dengan Acan. Tapi tidak lama karena Nyai Salamah mendapati mereka pernah berciuman di dekat tungku dapur.
            “Sita sudah menikah?”
            Ayah menggeleng canggung. Saya tahu maksud raut wajahnya. Dulu, hamil di luar nikah sungguh tabu di kota nelayan ini. Tidak ada yang berani melakukannya, pun bila sudah terjadi tak ada satu pun keluarga yang mau terang-terangan memamerkan hasil perbuatan anaknya.
            Terlebih lagi jika perempuan. Teman ibu dulu pernah hamil di luar nikah karena diperkosa pamannya sendiri. Sejak itu, tidak ada lagi pria yang mau menikah dengannya. Keluarganya pun enggan menerimanya di rumah. Dia diusir tanpa bekal dan uang. Saat ibu meninggal dia sempatkan datang melayat, walau hanya sejenak.
            “Siapa laki-lakinya, Yah?”
            “Jangan kau bahas lagi. Saya merasa tidak nyaman.”
            Akhirnya sisa perjalanan kami habiskan dalam diam. Tidak hanya keanehan itu yang saya temui. Sudah mulai ada pembangunan gedung-gedung tinggi. Kontraktor di mana-mana. Polusi yang saya kira hanya akan saya temui di kota merah, justru mulai ada di sini. Miris hati saya sebenarnya.
            “Banyak yang berubah,” saya bergumam sendiri.
            “Saya sudah tidak lagi mengenali kota ini, Lia. Semenjak kau berlalu dari dermaga itu, banyak yang hilang dari saya. Lalu, orang-orang berdasi itu pun turut mengambil sisa-sisa kenangan di kota nelayan ini.”
            Saya diam. Terlalu diam hingga suara lelah tukang becak bisa terdengar.
***
            Yamin datang bersama Sita, Acan, Somad, dan Ipul. Mereka membawakan singkong rebus, sambal mentah, dan sagu. Mereka memeluk saya satu per satu. Saya canggung bukan main, karena kami dulu tidak pernah seleluasa begini. Jangankan pelukan, jabat tangan pun terasa aneh bagi saya.
            “Adab baru,” gurau Acan.
            Pelukkan Sita cukup lama. Bila dibiarkan barang satu menit lagi, dia akan menangis di pundak saya. Sebagai teman yang dulu sering tidur siang bersama, saya mengerti ada begitu banyak beban yang ingin Sita ceritakan.
            “Kapan kau kembali, Lia?”
            “Saya tidak tahu. Jadwal kapal yang paling dekat baru dua minggu lagi. Itu pun bila tidak ada halangan. Ayah saya pun sepertinya belum mau saya kembali ke kota merah. Kalian tidak melaut?”
            “Mendung begini nelayan mana yang mau ke laut,” seloroh Ipul.
            Mulut saya begitu gatal ingin bertanya tentang kisah Sita dan anaknya. Tapi saya tahu itu tidak sopan. Jadi saya diam, menunggu para pria yang memancing atau Sita sendiri yang memulai.
            “Sita sudah punya anak, Lia,” akhirnya Somad berujar.
            Saya pura-pura kaget. “Kapan menikah?”
            Mungkin pertanyaan saya cukup di luar dugaan mereka, hingga Sita menatap Yamin cukup lama. “Dia tidak menikah. Ya, begitulah. Kecelakaan.”
            O, jadi mereka menyebutnya kecelakaan.
            “Siapa nama anaknya?”
            “Sandi.”
            “Umur berapa?”
            “Satu tahun sekarang. Lebih serang bersama Nyai daripada dengan Sita.”
            Melihat wajah Sita yang mulai tidak nyaman, saya mengubah topik pembicaraan. Saya ceritakan bagaimana kehidupan di kota merah. Bagaimana setiap kali saya melihat kapal saya selalu menahan diri agar tidak pulang. Mereka pun bertanya banyak hal. Hingga tak terasa senja mulai bertandang. Satu per satu membereskan piring-piring kosong. Sebelum pulang, mereka memeluk saya lagi. Sita hanya menepuk pundak saya pelan. Dia pun enggan menatap mata saya.
***
            Satu hari sebelum saya kembali ke kota merah, saya ingin melaut sendiri. Tidak perlu menangkap ikan, hanya berada beberapa kilometer di lautan kota saya ini. Lalu memandang kerlap-kerlip lampu rerumahan. Saya pinjam perahu ayah. Tak lupa saya bawa beberapa bohlam, lem, dan kayu yang sudah saya rangkai mengikuti rasi polaris.
            Acan pernah bilang, semua nelayan hanya akan pulang dengan petunjuk polaris. Bila rasi itu belum muncul, mereka akan tetap di atas laut. Menunggu hingga jalan pulang sudah bersinar.
            Lewat Acan pula saya belajar rasi polaris yang cukup rumit itu. Apa makna dari tiap-tiap sudut. Setelah mantap betul, saya rangkai kayu mengikuti rasi itu. Sesampainya di tengah laut, saya tempel bohlam ke setiap sudut yang ada. Untunglah nila IPA saya waktu SMA dulu selalu memuaskan. Tak pelik saya merangkai rangkaian listrik paralel yang dihubungkan ke aki motor.
            Saya acungkan tinggi-tinggi rasi polaris buatan saya ke arah kota nelayan. Mungkin bila kota saya benar-benar hidup dan merupakan kota nelayan, rasi polaris ini bisa mengembalikannya menjadi kota yang saya kenal dulu. Tidak lagi hura-hura seperti sekarang. Tidak lagi menganggap hal tabu sebagai hal yang wajar atau bahkan menjadikannya kebiasaan sehari-hari.
            “Pulanglah. Sudah saya buatkan polaris untukmu. Kembalilah seperti dulu lagi.”
            Hingga aki motor ayah saya habis, saya masih berada di tengah laut. Polaris buatan saya sudah mati. Kerlap-kerlip lampu di kejauhan pun mulai berkurang. Bila tahun depan kepulangan saya masih disambut oleh keadaan yang sama, mungkin polaris bukan lagi rasi kepulangan para nelayan.

*Cerpen ini menjadi juara I lomba penulisan cerpen Nasional Lautan 2017 yang dislenggarakan Teater Angin SMA N 1 Denpasar Bali.

Share:

Rangkong Dalam Cerita Ayah

Rangkong Dalam Cerita Ayah
Wika G. Wulandari

            Malam kelima Bulan Sya’ban, Ayah kembali membacakan cerita pengantar tidur yang ia tulis dalam pikirannya. Tidak hanya padaku Ayah tunjukkan cerita itu, tapi pada desir angin yang menghantar mendung, pada derik jangkrik yang lirih, pada neon-neon tua yang ringkih. Ayah bercerita dengan khidmat.
            “Saat umurmu lima tahun, kau senang memperhatikan burung rangkong dari jendela dapur,” Ayah memulai. “Kau pandai menirukan suaranya.Dan setiap malam sebelum tidur, kau berlagak seperti rangkong.Memutari pohon natal di dekat lemari buku ayah.Sampai kau lelah, sampai kau terkantuk-kantuk.”
             Aku menyeringai dan meminta Ayah melanjutkan.
            “Kau punya satu album tebal yang berisikan gambar rangkong.Kau bilang kau ingin punya mulut seperti rangkong.Besar dan tebal, agar bisa melahap semua masakkan Ibu tanpa sisa.”
            Aku tahu ada yang salah.Ada yang keliru dari cerita-cerita Ayah.Tentang rangkong yang tidak pernah muncul dalam kehidupanku sebelumnya. Tentang semua perilakuku waktu kecil yang sama sekali berbeda dengan apa yang kurasa. Tapi di hadapan Ayah, aku terkekeh.Berlagak seperti memang begitulah kehidupan kecilku dulu, begitulah aku melewati masa kanak-kanak bersamanya dan Ibu, bereaksi terhadap semua detail yang Ayah lontarkan. Tanpa pernah pikir ulang, tanpa pernah menanyakan.
            “Setiap malam kau buka album itu. Kau beri nama setiap foto yang ada. Yang Ayah ingat hanya satu, Garuda,” lanjut Ayah. “Kau ingat mengapa kau beri nama garuda?”
            “Karena Ayah?”
            Ayah mengangguk.
            Bahkan dengan jawaban tidak masuk akal pun, Ayah ikut larut bersamanya. Seakan percaya dan bahagia melihatku turut dalam alur cerita. Padahal tidak pernah kuingat ada adegan pemberian nama Garuda pada burung rangkong yang misterius itu. Pun janggal sekali bila garuda adalah refleksi Ayah. Tapi, kubiarkan mengalir.Seperti malam yang terus melarut bersama lelap para tetangga.
            “Dan karena setiap sore rangkong itu selalu ada di pohon ara, mengawasimu terkadang. Di antara puluhan foto rangkong yang kau punya, hanya Garuda yang paling kau sayang.”
            Bibirku terkatup rapat.Aku berlagak lagi, pura-pura berusaha mencari rasa yang dulu, mencari penggalan-penggalan kenangan tentang Garuda.Kukerutkan dahiku, sambil berpikir dalam diam, memang benar, bila umur makin bertambah, akan ada dua-tiga memori yang harus dikorbankan untuk dilupakan. Pengorbanan yang berharga dan egois.
            “Pernah album itu disimpan Ibu karena kau tak mau tidur siang.Saban hari kau merengek.Tak mau makan, tak mau mandi, tak mau turut ke gereja.Kau merontak di dalam kamar.Kau hancurkan semua susunan boneka di rak lemari.Kau lepas sepraimu, kau hamburkan bantal di lantai. Ayah hanya tersenyum melihat tingkahmu. Sedang Ibu sibuk bersiap diri ke gereja.”
            Ah, seperti itukah bila seseorang benar-benar mencintai sesuatu? Rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya? Dalam detak jarum jam yang mulai larut, aku kembali menyadari bahwa dulu, dulu sekali, ada bagian dari diriku yang begitu tergila-tergila dan polos, entah pada rangkong dalam cerita Ayah, atau pada bocah kecil seberang rumah yang pernah menawariku gula-gula.
            “Hingga kami kembali dari gereja, kau masih saja merajuk.Padahal sudah ibu bawakan rangginang kesukaanmu. Hahaha! Kau begitu lucu dulu.Sebenarnya bila kau teliti, kau bisa menemukan album kesayanganmu itu.Ibu hanya menyimpannya di lemari es, di bagian rak sayur.Tapi kau terlalu sibuk melempar apa saja yang ada di kamarmu.”
            Kami tertawa malam itu. Mencoba mengalahkan desir angin yang makin kencang. Pukul sembilan lewat lima belas menit, gerimis mulai turun. Ayah memakaikanku selimut.
            “Belum selesai, Ayah,” rengekku.
            Dia hanya mengangguk.“Besok kita lanjutkan lagi.”
            Untuk beberapa alasan, seperti kesenangan Ayah, aku tak bisa menolak bila saban malam Ayah selalu mendatangi kamarku. Menarik kursi kayu ke sisi tempat tidur dan mulai bercerita apa yang pernah dia alami dulu.
***
            Setelah ditinggal Ibu lima tahun lalu, Ayah mulai meninggalkan semua kegiatan yang mengharuskannya keluar rumah. Dia lebih memilih menungguku pulang, dengan secangkir teh hijau dan sebungkus biskuit. Kalau sudah begitu, kami akan berbincang cukup lama di teras belakang, sambil sesekali memanjatkan doa untuk Ibu.
Bulan lalu Ayah divonis menderita demensia, penyakit degenerasi yang perlahan menghapus ingatan-ingatan tertentu dan menghilangkan kemampuan motoriknya. Sejak itu dia sering memperlakukanku sebagai Arnia kecil, bukan Arnia dewasa yang sebentar lagi menyandang gelar doktor. Dan semenjak itulah Ayah mulai membacakan dongeng sebelum tidur, memakainkanku selimut, dan menunggu di ujung tempar tidur hingga aku benar-benar terlelap.
“Kau ingin mendengar lanjutan semalam?”
Meski terkadang aku terlalu lelah dan ingin segera tidur, teringat kembali pesan dokter yang memintaku untuk selalu mengajak Ayah berinteraksi. Pun aku tak bisa menolak seri semangat Ayah dan bagaimana dia selalu menggebu-gebu merangkai kejadian demi kejadian tentang rangkong dalam hidupnya. Dan perlahan aku disadarkan, pada malam-malam selanjutnya, dalam semua cerita Ayah ada rindu untuk kembali. Ada keinginan untuk berkumpul bersama sanak keluarga, membayar kembali waktu-waktu yang terlewatkan.
“Sebelum Ibu meninggal, Ibu meminta Ayah untuk membelikan boneka rangkong kesukaanmu. Waktu ditanya mengapa, ibu ingin tahu apa yang kau rasakan dulu saat setiap malam tidur bersama boneka rangkong. Susah sekali mencari boneka rangkong kala itu. Karena tak punya banyak waktu, Ayah pesan langsung ke tukang boneka.”
“Mengapa tidak ambil bonekaku?”
“Semua bonekamu dan albummu ditinggalkan di Kalimantan.Itulah mengapa kau mati-matian tidak mau naik ke pesawat dulu.Bila esok lusa kau kembali ke Kalimantan, ambilkan semua barang-barangmu.Tata rapi di lemari kayu punya Ibu. Agar esok lusa bila Ayah bercerita kenangan lalu, kau bisa melihat dan membayangkan dengan nyata.”
Aku mengangguk.Semakin hari, semakin bingung aku harus bagaimana menanggapi cerita Ayah.Bukan karena aku tak pandai bersandiwara, tapi lantaran aku tahu kehidupan masa kecilku tidak seperti yang diceritakan Ayah.Ada gejolak ingin protes dalam dada, gejolak yang sudah kutahan belasan hari. Berharap suatu saat akan luntur sendiri.
Lewat cerita-cerita Ayah, aku akhirnya tahu, banyak kenangan yang telah luntur dari ingatannya.Yang benar-benar bertahan di dalamnya hanyalah perasaan sedu sedan tentang hari-hari kelam di masa mudanya. Sesekali, dengan perasaan kosong, Ayah bercerita, dalam gigil tangis yang tak bersuara, sedih yang tak terkira, Ayah menuangkan penyesalannya sangat pekat.
“Rangkong hanya suka pada pohon yang lebih tinggi dari pohon lain. Di dekat rumah kita dulu ada pohon ara yang lebih tinggi di antara pepohonan yang lain. Ketika pohon ara ditebang, rangkong itu bingung. Hampir seharian rangkong itu hanya terbang mengawang di udara.Entah karena bingung ke mana habitatnya yang dulu atau bingung menemukan habitat baru.”
Saat tak ada lagi yang bisa dilanjutkan atau diceritakan, Ayah akan menatap lantai. Menyembunyikan bola matanya yang berkaca-kaca.Atau mengenggam erat tanganku, memintaku cepat terlelap agar dia bisa menikmati kesedihan di pojok kamarnya. Ketika tidak ada lagi yang bisa disampaikan, Ayah membiarkan lirih suara jangkrik mengisi kekosongan di antara kami. Sambil sesekali menggumamkan lantunan lagu lawas.
            Lalu kuingat dulu betapa sering lagu itu disenandungkan Ibu di antara perapian dan asap-asap masakkan. Kuingat pula saat ini, waktu Ayah merawat tubuh lemah Ibu karena digerogoti kanker dan diabetes, hanya lagu-lagu lawas yang Ayah nyanyikan untuk mengantarkan Ibu pada lelap. Hingga ketika lelap Ibu benar-benar panjang, dan tak ada seorang pun yang berani  berharap Ibu akan terbangun dari lelap itu, Ayah hadiahkan sebuah lagu lawas berjudul di batas kota ini dengan gumaman sendu.
Dan di rongga dadaku seperti ada badai pasir yang menggerakkan daun-daun ilalang.Mencabik-cabik, mengoyak, menoreh luka di sana-sini, meninggalkan pedih yang juga sangat[1].
***
            Satu malam di antara sekian banyak malam dengan cerita pengantar tidur, wajah Ayah hambar. Di sandaran tempat tidur, aku sudah menunggu, seperti biasa, dengan banyak rekaan adegan pura-pura.
            “Kau tahu hewan apa yang setia?”
            “Buaya, angsa, mungkin.”
            “Rangkong, Arnia. Rangkong itu setia.”
            “Seperti Ayah?”
            Ayah terkekeh. “Ibumu yang setia. Ayah belum tentu.”
            Aku tersenyum dan mengangguk. Ayah melanjutkan. “Rangkong jantan begitu menyayangi rangkong betina.Dibawakannya makanan saat si betina sedang mengerami telur di lubang pohon.Selama empat bulan berturut-turut, Arnia.Bila kau bunuh rangkong jantan, itu sama hal dengan kau menelantarkan induk dan anak-anaknya.”
            Bagiku itu hal yang wajar.Jantan mencarikan makanan untuk betina saat si betina sedang mengeram telur.Tidak ada yang begitu spesial dari cerita ayah. Tapi ketika melihat wajah Ayah begitunelangsa, di antara bohlam-bohlam kuning, aku tidak tega untuk menyela. Toh, di antara semua malam yang Ayah hadirkan dengan cerita pengantar tidur, pada akhirnya yang benar-benar kupentingkan adalah kesehatan Ayah.
            “Bagaimana kalau rangkong jantan mati sebelum masa pengeraman telur selesai?”
            Ayah diam. “Kau selalu suka akhir yang sedih, ya.”
            Bahkan sebelum larut mengetuk jendela kamar, Ayah mengakhiri ceritanya. Semua lampu Ayah matikan. Aku tak tahu ruangan mana yang menjadi tempat tumpahan kesedihan dan kerinduan Ayah malam ini, setelah tadi malam menghabiskan pekat air matanya di depan lemari kayu Ibu.
***
            Aku tahu, ketika Ayah pertama kali membacakan cerita pengantar tidur yang dia tuliskan dalam kepalanya, aku teramat sadar cerita itu bukan tentang masa kecilku. Sejak dulu, sejak lahir tak pernah sekali pun aku menginjakkan kaki ke Kalimantan, kota kelahiran Ayah. Dan aku pun tak pernah melihat burung rangkong terbang bebas di sekitaran pohon ara.
            Aku sadar, semua memori yang Ayah tuangkan dalam ceritanya adalah penggalan masa lalunya yang masih kuat menancap, meski demensia perlahan-lahan menggerus habis kenangan yang tersisa. Tapi kubiarkan Ayah bercerita, bercerita tentang masa lalunya yang kelam, yang dulu hanya Ibu yang tahu.
            Rangkong-rangkong yang Ayah ceritakan  adalah bentuk penyesalan masa mudanya. Dulu, dulu sekali, Ayah adalah pekerja lepas di sebuah organisasi ilegal. Demi menghidupi adik, kakak, dan ibunya, Ayah turut serta dalam penebangan liar di hutan Kalimantan. Semua pohon ara, pohon mahoni, dan pohon apa saja yang terlihat kokoh akan ditebang, tanpa pilah, tanpa berpikir dua kali. Bila beruntung, satu-dua ekor rangkong ikut dimangsa, diambil paruhnya, dan dijual ke pasar gelap.Hasil penjualan paruh rangkong bisa menghidup keluarganya selama satu minggu.
            Ibu pernah bercerita jumpa pertamanya dengan Ayah. Setelah dua bulan di bui dengan denda dua ratus ribu rupiah, Ayah dibebaskan. Di depan kantor polisi tempat Ayah mendekam itulah mereka pertama kali bertemu, berinteraksi dan menjadi titik awal kebersamaan. Sejak itu Ayah mulai berubah, tidak lagi menebang liar, tidak lagi berburu rangkong. Namun karena harus merawat Ibu, Ayah terpaksa meninggalkan Kalimantan. Pulang ke rumah mertua.
            Saban malam di langit Jakarta, Ayah gelisah. Memikirkan bagaimana nasib-nasib rangkong sekarang. Hingga kini, ketika aku adalah hal berharga yang tersisa dalam hidupnya, Ayah masihmenyimpan rasa yang dulu. Satu yang berubah adalah penyesalan dan kegundahan yang bertahun-tahun dialaminya, Ayah tumpahkan dalam cerita rangkong yang dibacakannya sebelum aku terlelap.
            Bahkan sebelum Ayah ikut terlelap bersama Ibu, sempat dikatakannya satu patah kalimat. “Jangan merenggut kesenangan makhluk lain. Sesal itu menyengsarakan dan mematikan.”




[1]Sebuah Kisah Sedih karya Puthut EA.

*Cerpen ini menjadi  juara III dalam sayembara menulis cerpen yang dislenggarakan Balai Bahasa Yogyakarta 2017
Share:

NYAI AZEDARACH

NYAI AZEDARACH
Wika G. Wulandari
Tidore, 1970
            Nuku menangis.Panglima tempur paling ditakuti di seluruh perairan timur itu tunduk dan menangis di hadapan mayat adiknya, Monaffa.Rintih dalam kesedihan tak bersuara. Pedang-pedang perang tak lagi ia angkat, hongi dan kora-kora ditelantarkan di pesisir pantai. Sungguh berita duka yang menggemberikan pihak musuh.
            “Apa yang kau ingin aku lakukan, Sultan?” aku bertanya.
            “Jambuli, ini bukan waktu untuk balas dendam!Karena sejatinya perjuanganku merebut tanah kelahiranku bukanlah atas dasar kekejian!”Nuku berteriak.Aku bergeming.Beberapa nakhodaku ikut menangis di barisan belakang.
            Sejak ayahnya meninggal, Nuku gencar mengambil tahta kesultanan Tidore.Sudah sepuluh tahun dia mengumpulkan pasukan untuk melawan pihak belanda dan sepupunya, Kamaludin.Atas dasar aturan kompeni, seharusnya Nuku yang diangkat menjadi sultan.Tapi sifatnya yang enggan tunduk dan pemberontak, membuat Belanda enggan memberi kuasa.
            Sepuluh tahun pun Nuku hidup bersama Monaffa dan beberapa pengikut setianya. Kami makan, tertawa, dan mengatur strategi bersama. Pun kadang tertidur di atas tikar yang sama. Kematian Monaffa tidak hanya pukulan pilu yang dirasakan Nuku seorang.Berita itu pun berdampak padaku. Aku yang  berjarak beberapa mil  di belakang hongi Monaffa, harus melihat pemuda perkasa itu mati tenggelam ditembaki meriam musuh.
            Pulangku bukanlah sesuatu yang diharapkan Nuku, karena berita yang kubawa adalah tentang kematian adiknya.Lengkap dengan mayat yang hangus terbakar.Nuku merintih, meremas kopiah putihnya.Tak berani dia menyentuh mayat adiknya.
            “Ini siapa, Jambuli?!” berulang kali dia berteriak menanyakan kepastian.
            “Kaicil Monaffa, Sultan. Kaicil Monaffa.” Berulang kali pun kujawab dengan suara bergetar.
            Tidak ada yang bisa menyembuhkan rasa kehilangan.Dua bulan sejak kematian Monaffa, Nuku bangkit kembali. Pasukkannya yang telah mati di wilayah musuh, sudah ia gantikan, bahkan berlipat ganda jumlahnya. Hongi dan kora-kora yang rusak sudah diperbaiki dan dilengkapi senjata penuh peluru.
            Satu malam sebelum peperangan, Nuku hadiahkan pertunjukkan Totobuang untuk para Kaicil dan nakhoda.Sebagai pembangkit semangat perang, pun dihadirkan tabuhan tifa sepanjang malam.Dari kami tak ada yang berani memejamkan mata, karena hari esok tak boleh terlewatkan.
            “Jambuli, ingin kukatakan sesuatu padamu,” ujar Nuku di antara hingar bingar pesta.
            Aku berdiri sigap.Nuku tertawa gelidan menyuruhku santai.“Kau tahu Nyai Salamah?”
            Monaffa, sebelum kematiannya, telah menikahi seorang perempuan Weda bernama Nyai Salamah.Selama perjalanan menuju wilayah musuh, yang biasa memakan waktu berhari-hari, yang selalu diceritakan Monaffa padaku adalah betapa ulet istrinya itu.Saban hari dia selalu memuji Nyai Salamah. Bila kuprotes atau kubandingkan dengan Nyai yang lain, langsung merah wajahnya. Lalu kami sama-sama terpingkal, mengingat betapa ia mencintai Nyai Salamah.
            “Tentu tahu, Sultan.Wanita yang selalu diagung-agungkan Kaicil Monaffa.”
            Nuku menepuk pundakku.“Sedang hamil empat bulan dia, Jambuli.Setiap malam tak berhenti dia menangisi Monaffa.Bila hendak mengantarkan makan, tak tega aku masuk ke kamarnya.Aku pun sedih, Jambuli.Tapi, tanah kelahiranku, tempat Monaffa dibesarkan, masih dikuasai Belanda dan sepupu gilaku itu.Aku tak boleh bersedih lama-lama.”
            Aku mengangguk membenarkan.
            “Dengan segenap hatiku, tanpa melibatkan gelar sultan.Maukah kau menjadi suami Nyai Salamah, Jambuli? Aku tak begitu percaya pada Kaicil yang lain. Bukan takut mereka membelot, tapi takut mereka mengalami nasib yang sama dengan Monaffa. Hanya kau Kaicil yang tangguh dan penuh dengan strategi.Setidaknya, aku punya pilihan terbaik di antara yang paling baik.”
            Mendadak sunyi sekitarku.Bagi kami, para panglima tempur, pergi perang adalah penentu hidup atau mati.Musuh yang kami hadapi memiliki senjata perang yang lebih canggih dan lebih berkuasa.Mustahil bila tidak ada yang dikorbankan selama perang.Itulah sebab mengapa sebagian dari kami enggan menikah sebelum Nuku berhasil menduduki kesultanan Tidore.
            “Kau tak perlu menjawab sekarang,” Nuku menambahkan sebelum aku bersuara.
            Lepas dari perkataan itu, Nuku kembali ke kamar.Meninggalkan kami dan hingar bingar pesta. Barulah pukul empat pagi, ia keluar. Lengkap dengan baju perang, kopiah putih, dan pedang, serta bambu.
            Seketika Totobuang dan pukulan tifa dihentikan.Pasukkan kembali berkumpul, mendengarkan arahan dari panglima perang. Tepat pukul lima pagi, kami berangkat menuju Gebe, Gita, dan Warsai. Target kami tetap sama, pasukan Belanda dan Kamaludin.
            Peperangan itu bukanlah klimaks di antara semua rencana Nuku, karena seperti yang kami prediksikan, kami pulang dengan kemenangan.Hongi dan kora-kora Kamaludin tumbang di perairan Irian.Nuku memelukku erat.Bisa kudengar degup kebahagiaan dari balik baju perangnya.
            “Untuk Monaffa, Jambuli! UNTUK MONAFFA!”
            Peperangan yang memakan waktu dua hari itu benar-benar menguras tenaga seluruh pasukkan.Sekembalinya kami ke Pulau Gorong, Nuku menghadiahkan kami tembakau cengkih, tembakau paling mahal kala itu.Ketika tiba giliranku, Nuku menunggu sejenak sebelum memberikan tembakau itu. “Bagaimana, Jambuli? Sudah kau dapatkan jawaban atas pertanyaanku?”
            Aku bergeming dan menolak tembakau pemberiannya.
***
            Di dekat bekas perapian semalam, aku menemui tambatan hatiku, Nyai Azedarach, wanita Gorong berkulit kuning pala.Malam itu dia mengenakan brokat putih sederhana tanpa umbai dan rok kain bercorak batik warna cokelat.Sungguh, semua lelah dan penatku kabur persetan saat dia menyambutku dengan senyum.
            “Selamat. Jam,” ujarnya manis.
            Perasaan lega yang sempat hinggap saat melihatnya tersenyum sirna digantikan gelisah dan sesak di dada.Aku tahu ini bukan pertemuan yang menyenangkan. Apalagi aku harus segera memberi jawaban pada Nuku, tak mungkin bila kutunda memberi  tahu Nyai Azedarach.
            “Mengapa belum tidur, Dara?”
            “Seperti biasa, Jam, aku menunggumu pulang dan ingin mendengar kisah pertempuranmu kali ini.”
            Aku tersenyum paksa.Perempuan ini tak tahu betapa kelu lidahku saat itu.Betapa aku ingin memeluknya dan menangis sesukaku.Karena setelah malam itu, aku bukan lagi miliknya.
            “Tidak ada cerita kali ini, Sayang.”
            “Kalau begitu, mari kita istirahat.Kau harus banyak tidur, karena masih ada perang yang lebih besar dari ini.”
            Badanku kaku, tak mampu bergerak atau sekadar membenarkan omongannya.Untuk mencairkan keteganganku, kugenggam tangan Nyai Azedarach dan menunduk lama.Menangis aku malam itu. Tetes-tetes air mataku membasahi tangannya yang kasar. Tak pernah aku berlaku seperti ini di hadapannya.Pilu dan perih hati yang kurasakan saat melihat Nuku menangis di hadapan jasad Monaffa muncul lagi.Hingga suara tangisku berubah menjadi rengekan panjang, Nyai Azedarach hanya diam dan mengelus lembut bahuku.
            “Apa yang ingin kau katakana, Jam?Bicarakanlah agar kau makin lega.”
            Kepalaku menggeleng.“Tak sanggup, Nyai!Tak sanggup!”
            “Bila aku pun tak sanggup, tak mungkin kubiarkan diriku menikmati setiap kegelisahan dan kerinduan setiap kali kau berperang, Jam. Ada apa?”
            Setelah rasa sesak di dada berkurang, aku menatap matanya yang cokelat tua. “Izinkan aku menikah dengan Nyai lain, Dara.”
            Wanita itu kaku, sekaku kemudi kora-kora bagi mereka yang baru mengemudi.Dilepasnya genggaman tanganku, dia menatap lekat bekas perapian. Lama aku menunggunya berbicara atau sekadar mengeluarkan suara. Tapi Nyai hanya diam membeku.
            “Kau tak perlu menjawab sekarang, Dara.Aku bisa menunggu esok, lusa.”
            “Aku tak mau menjawab, Jam. Jangan menunggu.”Nyai Azedarach bangkit dan meninggalkanku sendirian.Bersama rembulan yang mulai layu dan daun gugur, aku tertidur di pekarangan kampung.
***
            Nyai Azedarach mengusap matanya.Sedari tadi, selama bercerita tentang kisah percintaannya di masa peperangan Nuku, dia tidak berhenti menangis.Lalu aku tetiba menghentikan mesin waktunya, karena tak tahan lagi melihat wanita yang belum menikah ituterus-terusan menangis.
            “Bagaimana perasaanmu saat harus menari di pesta pernikahan  kekasihmu, Nak?” dia bertanya padaku. Sorot tajam matanya membuat lidahku kelu.
            “Setelah pulang dari perang, Jambuli langsung mendatangiku.Memohon restu untuk menikahi Nyai Salamah yang sedang mengandung empat bulan.Aku tahu dia tidak sanggup menolak permintaan Nuku.Aku diam. Dan esok malam, aku menari tanpa senyuman di pesta pernikahannya.”
            “Tidakkah dia mengatakan sesuatu, Nyai?”
            “Dia bilang, selepas perang, dalam setiap pulangnya akan selalu dipersembahkan untukku seorang.Karena sedari dulu, alasannya untuk tetap hidup di balik kemudi adalah aku. Kau boleh melihatku menikah dengan Nyai lain, tapi kau tak boleh menutup mata dan telinga tentang alasanku untuk selalu pulang ke sini, begitu dia berujar dulu.”
            Aku menutup buku catatanku, lalu menyalami Nyai Azedarach.Dalam perjalanan pulang dari Pulau Gorong, aku mulai mendikte nama-nama yang pantas menerima kehadiranku di bandara nanti.

Jejak Imaji, 2017

*Cerpen ini menjadi juara I penulisan cerpen ellunar publisher


Share:

Kamis, 03 November 2016

Membaca Sejarah (Wonosobo), Memasuki Ruang yang Penuh Jebakan.

 Pembentukan Kabupaten Wonosobo setelah berdirinya NKRI didasarkan pada UU No. 13 Tahun 1950, yang ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 8 Agustus 1950. Berdasarkan catatan sejarah Wonosobo dinyatakan sah berdiri pada tanggal 24 Juli 1825. Tahun yang sama yang mengingatkan terjadinya Perang Diponegoro (1825-1830). Tanggal itu ditetapkan berdasarkan hasil penelitian dari UGM yang dipimpin DR. Joko serta hasil seminar pada tahun 1994 yang diikuti oleh para ahli dan tokoh masyarakat Wonosobo.
Tahun 1825 merupakan tahun yang menandai kemenangan Muh. Ngarpah dan Mulya Sentika beserta prajuritnya dalam menghadapi Belanda (VOC) di daerah Legorok (perbatasan Magelang dan Wonosobo). Atas kemenangan itu Pangeran Diponegoro menganugerahkan gelar kepada Muh. Ngarpah (Kanjeng Raden Tumenggung Setjonegoro), Mulya Sentika (Kanjeng Raden Tumenggung Kertanegara). Selanjutnya Setjonegoro ‘dianggap’ sebagai Bupati pertama (1825-1832).
Karena sebagai sebuah distrik Kabupaten yang sudah berdiri sebelum NKRI maka berdasarkan UU No. 22 Tahun 1948, yang ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1948 oleh Presiden Soekarno dan Mendagri Soekiman, Wonosobo ditetapkan oleh pemerintah sebagai “Daerah Istimewa” atau “Daerah Otonomi” yang berhak mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri. Akan tetapi keistimewaan itu kurang mendapat penegasan secara signifikan dari Pempus, Pemda, dan masyarakatnya sehingga lambat laun keistimewaan itu memudar seiring perkembangan zaman, terutama saat berkuasanya Orde Baru.
Dalam buku Kenang-Kenangan DPRDS Kabupaten Wonosobo 1950-1959 menyatakan bahwa:
Sesudah Yogyakarta, Wonosobo adalah kota kedua yang berkat ketertiban daripada rakyatnya, dalam Pemerintahan RI., yang sebagai hasil perundingan tingkat atasan, oleh tentara pendudukan Belanda diserahkan kembali kepada RI.


Menilik Sejarah Keberadaan Wonosobo
            Pemerintahan Wonosobo dulunya berawal dari daerah Ledok (sekarang Plobangan, Selomerto). Saat itu yang memimpin adalah Tumenggung Djogonegoro, yang hidup sezaman dengan ‘Sultan Sepuh’ di Mataram (kisaran abad 18). Mataram waktu itu dibagi menjadi dua bagian (bedasar perjanjian Giyanti, 1755), yakni Kasunanan Surakarta dengan Pakubuwono III sebagai raja dan Kasultanan Yogyakarta dengan Hemengkubuwono 1 sebagai raja. Daerah Wonosobo saat itu kemungkinan berada di bawah pemerintahan HB 1.
            Dari versi lain, ada juga seorang tokoh lagi bernama Tumenggung Djoyonegoro, (hanya berbeda ‘y’ dan ‘g’) dengan Djogonegoro. Djoyonegoro diketahui hidup pada kisaran abad ke-17, itu artinya ia hidup di masa pemberontakan Trunojoyo (masa Amangkurat 1). Ada kemungkinan Djogonegoro dan Djoyonegoro merupakan orang yang sama, sebab menurut kisahnya ketika wafat mereka sama-sama dikebumikan di daerah Pakuncen. Dari kedua versi tersebut memang masih menyisakan perdebatan karena terbatasnya sumber sejarah.
            Menurut Serat Walisana yang ditulis oleh Sunan Giri, sebelum masa Mataram, yakni pada masa Kerajaan Demak (akhir), nama ‘Wonosobo’ atau ‘Wanasaba’ juga sudah ada. Penggunaan kata ‘Wanasaba’ dipakai sebagai gelar oleh seorang tokoh, yakni Ki Gede Wanasaba. Dia adalah salah seorang yang digolongkan sebagai wali, yang ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam. Lagi-lagi karena kurangnya sumber sejarah, belum bisa diketahui secara pasti keterkaitan antara Ki Gede Wanasaba dan Wonosobo.
            Lebih jauh, di dalam penaklukan terhadap daerah bawahan Majapahit  yang dilakukan oleh para Wali Kerajaan Demak (berdasar babat yang lahir dan ditulis dari Kraton Mataram Yogyakarta), Kadipaten Wonosobo pada tahun 1522 merupakan bagian dari Kadipaten Pengging. Pengging pada abad ke-15 bisa dikatakan sebagai Negara bayangan dari kerajaan Hindu Kediri dan Daha di Jawa Timur. Babat Tanah Jawi dan Babat Demak mencatat nama Wonosobo dan Dieng dengan menyebut ‘Ledok’ dan ‘Gowong’.
            Lebih jauh lagi, jika menilik dari munculnya Prasasti Canggal di Gunung Wukir (Salam Magelang) yang diidentifikasi sebagai tonggak pengetahuan keberadaan Wangsa Sanjaya (Hindu) dan Prasasti Sojomerto (Banjarnegara) sebagai tonggak pengetahuan keberadaan Wangsa Syailendra (Budha), keduanya muncul kira-kira abad ke-7, kemudian berkembang dan menemukan kebesarannya pada abad ke-9. Wonosobo dan Dieng (yang mungkin saat itu belum bernama) memiliki peran penting terhadap keberadaan dan keberlangsungan kerajaan, khususnya masa kedua wangsa itu.
            Bukti peran penting itu adalah banyak ditemukannya candi-candi di daerah pegunungan Dieng. Dulu candi dibangun dan difungsikan sebagai tempat peribadatan (pusat kosmos). Di sisi lain ada kecenderungan orang-orang pada zaman (Wangsa Sanjaya dan Syailendra) memang memiliki kebiasaan hidup di daerah tinggi (pegunungan).
            Hidup di pengunungan memiliki resiko, terutama ancaman bencana gunung berapi. Banyak dari kerajaan-kerajaan di Jawa yang mengalami permasalahan dengan gunung berapi. Akibat bencana ini mau tidak mau mereka harus mengungsi dan turun gunung mencari tempat yang aman. Dari kejadian inilah kemudian terjadi pengalihan pusat pemerintahan kerajaan. Contoh yang paling jelas adalah dengan munculnya candi-candi di dataran rendah.
            Dari beberapa catatan di atas, setidaknya daerah Wonosobo berperan penting menjadi daerah yang memiliki lokasi strategis untuk mendirikan sebuah kerajaan. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah belum adanya sumber pasti yang menunjukkan angka berdirinya ‘Wonosobo’.

Pendiri dan Masa Pemerintahan Wonosobo
            Disebutkan bahwa pendiri Wonosobo adalah tiga orang kyai, yakni Kyai Walik, Kyai Karim, dan Kyai Kolodete. Ketiga orang ini di kalangan masyarakat dianggap sebagai Kyai yang berpengaruh besar terhadap keberadaan Kabupaten Wonosobo. Kyai Walik merintis suatu pemukiman di daerah kota (yang sekarang), Kyai Karim di Kalibeber, dan Kyai Kolodete di daerah Dieng.
            Kemudian dikenal pula (nama-nama pemimpin/bupati Wonosobo) (1) Ki Tumenggung Kartawasesa sebagai kepala daerah di Selomanik dengan Ki Butowereng sebagai patihnya (daerah selomanik dianggap sebagai daerah yang pertama kali difungsikan sebagai pusat pemerintahan sebelum dipindah-pindahkan sampai beberapa kali); (2) Ki Tumenggung Wiraduta menggantikan Ki Tumenggung Kartawasesa sebagai kepala daerah berpusat di Pecekelan (Kalilusi); (3) Adipati Sidokolo berpusat di Leksono; (4) Ki Tumenggung Djogonegoro di Ledok; (5) Ki Tumenggung Tjokrodimedjo (putra Djogonegoro) memindah pusat pemerintahan ke Selomerto, (6) Tumenggung Surodipoero masih di Selomerto (setelah Surodipoero agaknya tidak ada lagi nama yang disebut-sebut sebagai adipati); (7) memasuki abad ke-19 muncul Muh. Ngarpah (Tumenggung Setjonegoro) (1825-1832) Tumenggung Setjonegoro adalah bupati yang memindah pusat pemerintahan Wonosobo dari Selomerto ke tempat yang sekarang ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan; (8) R. Tumenggung Mangoenkoesoemo (1832-1857); (9) Tumenggung Kertonegoro (1857-1863); (10) Tumenggung  Tjokrohadisoerjo (1863-1889); (11) Tumenggung Soerjohadikoesoemo (R. Parikesit) (1889-1898); (12) Tumenggung Soerjohadinegoro (1898-1919); (13) R. A. A Sosrodiprodjo (1920-1944); (14) R. S Hadipoero (1944-1946); (15) R. Soemindro (1946-1950); (16) R. Kadri (1950-1954); (17) R. Oemar Soerjokoesoemo (1954-1955); (18) R. Sangidi Hadisoetirto (1955-1957); (19) Rapingoen Wimbohadi Soedjono (1957-1959); (20) R. Wibowo Helly (1960-1967); (21) Drs. Darodjat A.N.S (1967-1974); (22) Pj Bupati R. Marjaban (1974-1975); (23) Drs. Soekanto (1975-1985); (24) Drs. Poedjihardjo (1985-1990); (25) H. Soemadi (1990-1995); (26) Drs. H. Margono (1995-2000); (27) Drs. Trimawan Nugrohadi (2000-2005); (28) Drs. Kholiq Arif, M.Si. (2010-2015).

            Secara umum masyarakat Wonosobo meyakini bahwa orang-orang yang pertama ‘mbukak alas’ adalah Kyai Walik, Karim, dan Kolodete. Akan tetapi lagi-lagi belum ada catatan resmi yang merujuk pada ada angka tahun mengenai kapan terjadinya peristiwa itu.
Share:

Selasa, 05 April 2016

KESATRIA YANG SEDANG MENCARI (MEMBACA PUISI RABBANI)




           Kesatria yang Sedang Mencari (membaca puisi Rabbani) - Saya kira hampir setiap manusia memiliki misi di setiap kehidupanya, entah apa itu, jika belum bisa menemukanya dapat dikatakan kita masih dalam keadaan “amnesia” dan berusaha untuk menemukanya. Usaha yang telah dilalui selama ini, juga ketika anda sedang membaca tulisan saya, merupakan suatu usaha meniti langkah demi langkah untuk mencapai garis itu. Beruntung kepada seseorang yang telah menemukan apa yang sejatinya dalam hidup, jika telah menemukanya kemudian digunakan sebagai kompas untuk menentukan kemana langkah selanjutnya akan ditempuh. Jika anda bertanya bagaimana dengan saya? Sayapun masih dalam tanda tanya besar, masih berusaha menyingkapkan tabir itu, berusaha untuk merobohkan sekat-sekat labirin, sampai menemukan titik cerah yang mengisyaratkan jalan keluar yang harus dituju. Ada satu kalimat yang saya ingat dari DEE “Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi kita lagi.”
Share: