Jumat, 21 Juli 2017

Proses Atau Hasil: Sebuah Refleksi bagi Kaum Intelektual Muda dalam Berkarya

Proses Atau Hasil:
Sebuah Refleksi bagi Kaum Intelektual Muda dalam Berkarya
Ari Prastyo Nugroho

Mahasiswa dan Pelik-pelik Permasalahannya
Harapan yang pernah dituliskan Sapardi (1973:129) dalam beberapa catatannya mengenai Kesusastraan Indonesia Modern ialah bagaimana jika universitas di Indonesia (pada saat itu) mempunyai Jurusan Indonesia atau Jurusan Sastra di tengah jurusan-jurusan bahasa yang note benenya Internasional, misal bahasa Inggris. Dengan adanya wadah semacam itu, jurusan tadi diharapkan akan menjadi jurusan yang paling sibuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang mempunyai daya tarik besar di samping berarti pula. Bila melihat yang terjadi sekarang, menurut hemat saya, sudah banyak jurusan Indonesia atau pun jurusan Sastra di berbagai universitas, baik yang negeri maupun swasta.
Perkembangan ini tentu sudah diketahui pula oleh Sapardi. Mestinya ia merasa sangat gembira dengan menjamurnya jurusan bahasa/sastra indonesia baik dengan istilah masing-masing. Misalnya, Jurusan Sastra Indonesia atau Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namun, apakah menjamurnya hal tersebut juga sebanding dengan kegiatan atau acara yang bisa menjadi ruh dan penggerak semangat berbahasa dan bersastra di lingkungan kampus? Setidaknya begitu. Tak hanya semarak dan sebatas mengundang sensasi. Kegiatan-kegiatan semacam dimaksudkan juga memberikan esensi demi perkembangan di bidang tesebut. Meskipun demikian, pantas dipertanyakan masih adakah geliat kerja, geliat berkarya di kalangan mahasiswa di tengah-tengah kemajuan teknologi yang menawarkan kepraktisan? Jadi, seperti yang dikatakan Bre Redana dalam wacananya “Aku Tak Berpikir, maka Aku Ada”. Ungkapan yang kurang lebih untuk menunjuk fakta semakin tersingkirkannya pelibatan proses berpikir yang mendalam oleh segala hal yang sifatnya praktis, teknis, dan seketika. Dengan rumusan lain, orang kian malas berpikir.
Jika berbicara tentang kampus, tidak bisa dikesampingkan begitu saja, yaitu pembicaraan terhadap mahasiswa. Sebagian orang ada yang tidak bisa menikmati bangku kuliah, karena berbagai alasan. Namun, tak sedikit yang bangga menjadi siswa yang maha, yaitu mahasiswa. Dari namanya saja, sudah terkesankan kewibawaan, intelektualitas yang mumpuni. Juga tersandarkan sebagai harapan ialah agent of change, seperti jamak yang kita ketahui. Mahasiswa dituntut banyak hal di dalam perkuliahannya. Baik yang sifatnya akademis (yang secara formal terikat dengan lembaga dalam hal ini universitas) atau kekeluargaan, sampai pada pengembangan diri di luar akademik. Dengan begitu, mahasiswa mempunyai dinamikanya sendiri. Belum lagi soal asmara, yang tentu saja tidak luput dari perhatian mahasiswa. Dengan adanya banyak hal seperti itu, bagaimanakah kedudukan berkarya bagi mahasiswa sekarang? Terutama mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia. Apakah sebagai tujuan, sebatas lahan singgah, atau justru dianggap sebagai tabu? Yang terkahir saya rasa mustahil terjadi.

Bergegas dalam Kepraktisan
Bayangkan, setiap semester berapa mata kuliah yang diambil. Katakanlah 10 sampai 12 dengan SKS rata-rata 24. Bagaimana jika masing-masing mata kuliah tiap minggunya dilengkapi tugas. Dapat dipastikan yang hilir-mudik dalam pikiran mahasiswa adalah tugas-tugas kuliah. Itu kalau toh memang dipikirkan. Lantas bagaimana kuliah itu? Apakah sama dengan menggugurkan tugas? Ada segelintir mahasiswa yang beranggapan, “Ayo kuliah, biar cepat lulus”. Mindset tersebut perlahan menjamur pada setiap kepala. Fokus yang ditekankan soal kecepatan. Kenapa tidak “Ayo kuliah, biar cepat pandai?” Yang pertama tadi berasumsi bahwa kita bisa belajar di mana saja, dalam ruang apa saja. Baiklah! Tapi lagi-lagi kita membentur fokus yang sama “Biar cepat, biar cepat, … bla bla bla”. Indikasinya, jelas bukan hasil sebagai prioritas. Karena itu, kecurigaan terhadap berlangsungnya proses muncul. Bagaimana jika sudah demikian? Intensitas untuk bersetubuh dengan proses akan lemah. Karena orientasinya ialah hasil, maka kecenderungan berlaku praktis akan semakin tinggi. Kepraktisan akan lebih dipilih karena dapat menjadi jalan pintas yang dipilih. Menjadi pemulus dalam melangkah. Kita ambil contoh sederhana saja. Dengan akses internet yang begitu mudah, maka tidak perlu repot lagi untuk mencari informasi. Karena segala informasi bisa kita dapat di dalamnya. Kecuali, proses!
Kesempatan tersebut sering dimanfaatkan oleh para mahasiswa‒yang jumlahnya tidak sedikit, untuk memalsukan tugas kuliahnya. Kenapa demikian, karena tidak dikerjakan dengan pikiran sendiri. Mereka cenderung comot sana sini, tempel ini itu, lalu sedikit ditambah agar keliahatan serius. Celakanya tindakan seperti itu masih ditambah kecenderungan mengabaikan aspek atau aturan yang berlaku. Misalnya, dalam hal mengambil sumber referensi. Secara sederhana, ketika mengambil pendapat orang untuk memperkuat argument, tentunya kita harus minta izin dahulu. Wujud perizinannya dengan mencantumkan sumber dengan benar dan elegan. Jika tidak, kita seperti tidak menghargai ilmu. Kita menjadi seperti perampok. Selayaknya hal-hal elementer seperti itu sudah menjadi pengetahuan umum bagi mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Tapi, apa yang terjadi? Silakan diamati! Karena kasus seperti dimaksudkan, ada ilmuwan yang dianggap plagiat, lalu dicabut gelarnya. Contoh lain, karena ketahuan, lalu nilai tidak keluar di KHS. Belum lama ini kita juga dihebohkan berita mengenai ijazah palsu. Padahal, semua itu baru sekadar teknis, belum lagi soal esensi, yang bagi orang sekaliber mahasiswa semestinya sudah tuntas kritis.
Dilanjutkan oleh Bre Redana, kebiasaan kutip sana sini, ini itu, akan melahirkan generasi kemasan. Generasi yang dari luar tampak meyakinkan. Persis dengan segala sesuatu dikemas; praktis, dan tidak perlu berlama-lama dengan proses. Padahal, berbagai macam kemudahan yang ditawarkan melalui alat dan pelayanan membuat kita termanjakan. Semoga juga tidak terbuai. Semua kemudahan tadi menyebabkan kita malas untuk berpikir. “Buat apa susah-susah? Di internet juga ada. Minta kawan juga bisa.” “Gitu aja kok repot!”. Berkarya bukan lagi keharusan meski sebetulnya merupakan bagian dari status kemahsiswaan. Tugas dan berkarya menjadi jarang diminati. Tugas menjadi alternatif pilihan paling akhir. Kalau sudah seperti itu, bagaimana akan muncul semangat untuk berkarya. Jika urusan formalitas saja sudah demikian, apalagi yang jlimet. Jika memang ada geliatnya, kita juga berhak meragukannya. Namun, lagi-lagi jika dalam kaitannya dengan proses.

Wadah dan Kesempatan yang Diabaikan
Orang yang tidak berkarya bisa jadi ia tidak punya peradaban, bagi individu atau mereka sendiri yang mengabaikan wadah yang sudah ada. Dalam lingkup kampus sebenarnya sudah banyak kegiatan yang semarak, entah karena program kerja, atau memang karena dirasa sebagai kebutuhan. Mulai dari pertunjukkan sastra (puisi, drama, monolog), membukukan karya-karya mahasiswa, baik yang sifatnya independen atau ditumpangi kepentingan tertentu. Juga tidak luput, yaitu berbagai perlombaan, baik yang dilabeli regional sampai nasional. Namun, bagaimana antusias mahasiswa untuk terlibat di dalamnya? Kegiatan yang semacam itu tidak atau bukan seperti merebaknya Android, ramainya festival gedget. Semuanya itu hanyalah kenyataan sunyi, yang berjarak dari hingar bingar fisikalitas praktis, tidak tahan lama, dan cepat berubah sesuai dengan sifat rakus manusia.
Kita ambil contoh, yang sudah menjadi semacam tradisi, karya sastra di media massa, baik itu cerpen maupun puisi, pada jangka tertentu lalu diterbitkan kembali dalam bentuk buku. Peran media massa dalam penyebaran karya sastra memang bisa dikatakan penting. Media massa menjadi embrio lahirnya buku-buku besar (baca: bermutu). Begitu juga dengan karya mahasiswa dalam  lingkup kampus. Penulisnya tentu tak ingin terlewat dari kemungkinan untuk bisa membukukan karya. Motivasi tersebut dapat bermula dari kepedulian salah satu mata kuliah yang menganggap bahwa berkarya itu sebuah keharusan, baik mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, atau dari lingkup yang lebih besar daripada itu. Untuk mewujudkannya bisa dilakukan dengan mengadakan kerja sama antara lembaga dan penerbitan. Harapannya tradisi yang semacam itu tidak hanya latah, namun sebagai bentuk perkembangan berpikir, yang lagi-lagi harus berjibaku dengan proses.
Jika hasil  masih sebagai orientasi, karya yang dihasilkan tidak menutup kemungkinan menjadi kering, tidak hidup, tidak otentik. Bahkan parah lagi sekadar serampangan. Hal ini disebabkan karena kurangnya intensitas bergelut dengan kehidupan atau memandang sebuah penciptaan sekadar sesuatu yang praktis. Secara sederhana, apabila benar-benar dari proses, setiap detail sebuah karya kapanpun akan diingat. Akan membekas di dalam pikiran dan perasaan. Jika sebaliknya, seluruh bagian hanya akan seperti angin lalu. Sedikit pun tidak akan memberi efek pada pelakunya.

Memaknai dan Kembali ke Hakiki  
Begitulah gaya manusia modern sekarang. Manusia yang ingin berbuat banyak dalam waktu yang ringkas, dengan cara yang sesingkat-singkatnya. Keinginan tersebut dikawal dengan ketat oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat. Nyaris tanpa alternatif. Semua seperti nyaman hanyut terbawa arus tradisi produksi yang begitu-begitu. Manusia kian terjebak dalam kubang kesementaraan jika tidak lekas beranjak mengukuhkan benteng kesadaran. Perlu disadari Kita tidak bisa bertindak praktis terus-menerus. Prinsip efektif dan efisien memang perlu, tapi pengertiannya bukan harus mengasingkan proses. Kita perlu terus mengamati dan peka terhadap gejala-gejala di lingkungan sekitar.
Orang harus sadar bagaimana dan di mana mikro dan makrokosmosnya. Kita ada karena semesta. Perlu ada keyakinan terhadap setiap kerja, pada renik-renik yang bernama proses. Kita jangan enggan untuk berpikir. Berkarya juga tidak lepas dari proses berpikir dan perenungan terhadap suatu hal, entah peristiwa, gejala, atau yang lainnya. Jelas, bahwa jalan pintas tidak bisa diharapkan muluk untuk mendapat sesuatu yang besar, awet, apalagi dikenang banyak orang. Kita perlu yakin dalam berkarya bahwa proses adalah hasil itu sendiri.
Jejak Imaji, Juli 2015 

*Tulisan ini menjadi juara harapan III dalam sayembara penulisan esai yang dislenggarakan Balai Bahasa Yogyakarta 2015.

Daftar Pustaka
Damono, Sapardi Djoko. 1973. Kesustraan Indonesia Modern: Beberapa catatan.  Jakarta: PT. Gramedia.

Redana, Bre. 2011. Aku Tak Berpikir, maka Aku Ada. Dari                                                  http://nasional.kompas.com/read/2011/05/08/03534313/aku-tak-berpikir-     maka-aku-ada. Diakses 27 Juni 2015.
Share:

Kamis, 20 Juli 2017

BARAPEN NISAN

BARAPEN NISAN

Wika G. Wulandari
            Kose menatap wajah lugu Amos. Sedari tadi bocah berambut ikal itu hanya menganga mendengar ucapannya. Tak habis akal, kose mulai negosiasi lagi.
            “Amos, bapak pinjam satu hari saja. Tidak akan lama-lama. Cuma buat barapen sambut bule.”
            Amos diam, entah mengerti apa yang pria tua itu katakan atau tidak. Karena sejak dipanggil ke honai, Amos tak bersuara. Seperti dipaksa mendengarkan dan menyetujui tanpa banyak tanya.
            Kose mengelap wajah, pasrah dengan sikap polos Amos.“Amos mengerti ka tidak?”
            “Mengerti, Bapak.”
            “Kalau mengerti, kenapa diam?”
            Amos tak menjawab, malah menunduk.Menghindar dari tatapan kose.
            “Kalau Amos setuju, nanti bapak kase daging babi satu mangkuk ful.”
            Senyum itu, senyum lebar dari bibir Amos adalah ekspresi yang dinanti-nantikan Kose.Dan begitulah, Amos yang bahagia diantar pulang ke honai. Bocah itu sungguh tak mengerti apa yang telah ia tukarkan dengan nisan orangtuanya. 
***
            Betapa antusiasnya warga Baliem ketika mendengar Pendeta Asso mengumumkan kedatangan bule esok lusa.Tak henti-hentinya mereka tersenyum bahagia sambil mengucapkan syukur pada Tuhan. Tak lupa pula mereka bisikkan sayur-mayur apa yang pantas untuk upacara bakar batu penyambutan nanti. Apakah kasbi, buah merah, atau sayur paku.Semuanya mereka ucapkan dengan sukacita.Berharap esok lusa bisa segera tiba.
            Baliem memang tidak seterkenal Raja Ampat, pun tidak seramai Jayapura, tapi semenjak kehadiran tambang emas di perbatasan kampung dengan lembah gunung, Baliem mulai didatangi orang asing.Tentu bukan karena keindahan kampung, orang-orang berkulit putih itu datang kemari, tapi karena pekerjaan yang menanti mereka.Perjalanan ke tambang emas cukup memakan waktu, itulah sebab mengapa orang-orang asing itu mampir barang satu malam di Baliem sebelum melanjutkan perjalanan.
            Sudah lima tahun tambang emas itu berdiri. Pertama kali diresmikan, semua warga Baliem diberi seekor anak babi secara cuma-cuma, lengkap dengan biaya pembangunan kandang.Hadiah kecil itu sebagai bentuk terimakasih pimpinan tambang kepada masyarakat Baliem.Mungkin karena dengan lugunya mau repot-repot menyambut setiap pekerja dengan tarian adat dan barapen.
            Babi-babi pemberian itu kini sudah gemuk, beranak pula.Tambah bahagialah warga Baliem.Saban hari tak pernah mereka keluhkan jalan-jalan kampung yang rusak gegara dilewati truk. Atau kepulan debu dan asap truk yang kerap menyesakkan dada mereka. Karena semua gangguan itu sirna ketika melihat babi-babi piaraan mereka beranak-pinak dan berdaging.
            Bahkan pohon matoa yang berumur tahunan di dekat gereja sengaja ditebang karena menghalangi jalan truk.Jangan ditanya, warga Baliem tak perlu menunggu komando dari pemimpin tambang, mereka dengan sergap dan cekatan melayangkan peda demi kelancaran transportasi tambang.
            Semua itu seperti pemandangan miris bagi orang luar.Tapi bagi warga Baliem yang telah jenuh mengecup kesunyian, kehadiran tambang emas adalah bentuk keramaian yang sangat nikmat didengarkan.Tak peduli bila mereka harus berulangkali menutupi lubang jalan dengan pasir sisa pembangunan gereja.Tak peduli bila anak mereka tak berhenti batuk siang-malam gegara menghirup debu truk. Dan tak pernah peduli bila satu per satu pohon matoa dan pohon apa saja akan ditebang untuk memperluas akses menuju tambang.
***
            Pendeta Asso menangkan kerumuman.“Upacara besok harus meriah.Kitaharus buat orang bule itu senang.Ibu-ibu tolong mulai sore nanti kumpulkan semua sayur hijaudi hunila.Tinggal dua hari lagi.”
            Memang benar, kehadiran tambang emas telah banyak membantu kehidupan warga Baliem.Mulai dari segi ekonomi hingga segi sosialitas.Sekarang tak ada lagi suasana sunyi di hunila bila para ibu memasak bersama.Selalu saja ada topik yang diceritakan tentang tambang itu.Entah tentang angan-angan diberi babi lagi, atau angan-angan bertemu pemimpin tambang. Setiap kali Pendeta Asso mengumumkan kedatangan bule, ibu-ibu akan larut dalam duga-duga mereka sendiri.
            Itulah mengapa tak ada satu pun warga Baliem yang protes saat kaki-tangan tambang merusak, mengganggu, dan mengambil sesuatu dari kampung mereka.Sungguh kerelaan itu adalah balasan terbaik dari mereka atas anak babi yang sudah menjadi induk.
***
            Sudah dari semalam hunila penuh dengan sayur-mayur.Buah merah pun sudah dibersihkan dan ditiris di baskom terpisah. Sedang sayur-mayur yang lain dijadikan satu di baskom lebih besar. Batatas, kasbi, dan kentang sudah dikupas bersih dan direndam air garam. Para-para hunila tertata rapi dengan piring-piring keramik yang sengaja dikeluarkan dari gudang gereja.Penyambutan kali ini memang dibuat meriah karena yang datang adalah pimpinan tertinggi tambang emas.
            Menurut rumor, pimpinan tertinggi yang dulu memberi babi secara gratis berasal dari Amerika.Badannya tinggi tegap, kulitnya putih bersih seperti kasbi, bola matanya biru laut, dan bibirnya merah ranum seperti matoa.
            Ciri-ciri itu selalu diulang Pendeta Asso setiap kali ibu-ibu menggodanya untuk bercerita tentang pimpinan tambang.Entah dari mana Pendeta Asso mendengar kabar itu. Yang penting, setiap kali mengulang informasi yang sama, ibu-ibu itu langsung girang dan bersemangat menyiapkan bumbu-bumbu sayur. Siapa sangka ciri-ciri yang kerap diomongkan Pendeta Asso bisa mereka buktikan besok siang.
Hari itu kampung Baliem sungguh ramai. Pemuda-pemudi mulai berlatih tarian adat di depan gereja. Pendeta Asso bolak-balik mencari ayat alkitab yang pas untuk kata sambutan.Anak-anak memilih bermain dengan babi-babi gemuk di dekat musoholak.Keramaian itu hanya bisa mereka rasakan setahun sekali, itu pun bila ada pekerja baru yang didatangkan.
Di antara wajah-wajah antusias itu, Amos menyempilkan senyumnya.Bersorak bersama beberapa bocah ingusan di antara badan-badan besar orang dewasa. Wajah lugunya sama sekali tak memperlihatkan kegundahan, karena memang menurutnya tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dia menari bersama pemuda lainnya. Bila dimarahi karena mengganggu barisan, Amos akan tertawa kencang sambil menghindar dari pukulan salah satu pemuda. Tak sampai di situ kesenangannya.Anak-anak babi yang sengaja dilepas dari kandang diajaknya kejar-kejaran. Lari sana, lari sini sampai ingusnya meninggalkan bekas kering di pipi kanan, tapi siapa peduli. Toh, tawa riang Amos adalah satu dari sekian banyak sukacita hari itu.   
***
            Pagi sebelum matahari merangkak melewati pohon matoa, kose sudah menunggu di pelataran gereja.Sebelum barapen dimulai, haruslah ada satu babi yang dipanah sebagai pembuka upacara penyambutan.Dan di sanalah kose, berdiri dengan seperangkat alat panah.
            Amos mengenakan baju terbaiknya; batik papua yang diberikan sekolah dan celana sekolah berwarna merah bersaku tiga.Wajahnya antusias sekali melihat kose mempersiapkan panah. Ketika melihat babi yang akan dipanah dibawa masuk ke lingkaran kerumunan, wajahnya makin berseri. Mungkin sambil membayangkan satu paha kiri babi itu akan mendarat di perutnya hari ini.
            Upacara penyerahan babi berlangsung khidmat. Setelah membersihkan sisa darah di bajunya, kose membantu beberapa pemuda mengangkat batu nisan untuk diletakkan di bara api. Memang hal ini sudah dibicarakan kose malam sebelumnya.Kehadiran tambang emas di perbatasan kampung tidak hanya memberi mereka kenikmatan baru, tapi juga turut mengambil hal-hal kecil dari kampung Baliem.
            Perluasan jalan menuju tambang emas mengharuskan mereka merelakan berton-ton batu diangkut tahun lalu.Awalnya kose dan warga Baliem mengira hanya dua truk saja, tapi hampir setiap hari supir-supir itu kembali dengan seringai garang.
            ”Ko pele, babi abis!” begitu ancam mereka setiap kali kose menyambut mereka dengan bersungut-sungut.
            Lalu, begitulah upacara barapen hari itu. Ada yang lain, tapi semua warga mencoba bersikap normal ketika menata sayur sambil melihat ukiran nama di batu nisan yang sedang membara. Sesekali mereka mencoba tertawa pada guyon sang pemimpin tambang, meski harus menunggu terjemahan dari gadis cantik berambut pirang.
            Semuanya memang berusaha normal, tapi tidak dengan Amos.Bocah kecil itu hanya menganga menatap segepok daging babi di piringnya. Sesekali dia mencuri pandang ke arah tumpukkan batu nisan yang ditutupi helaian sayur. Dulu, masih diingatnya bagaimana ia dan pace mengukir nama mace tanpa berbicara. Dua bulan setelah mengukir di nisan, pace meninggal karena DBD. Dan kini, dua nisan itu sedang menghangatkan kasbidan batatas untuk mengisi perut pemimpin tambang.
Sungguh kerelaan seperti apa lagi yang harus diterapkan bocah ingusan yatim-piatu ketika ada yang datang meminjam nisan orangtuanya.

1.      Kose           : Kepala suku
2.      Mace          : Ibu
3.      Barapen     : Bakar batu
4.      Kasbi         : Singkong
5.      Batatas       : Ubi
6.      Pace           : Ayah
7.      Hunila        : Dapur bersama
8.      Musoholak: Gerbang kampung
9.      Peda           : Pedang
           

Jejak Imaji, 2016
*Cerpen ini menjadi Juara 1 Bulan Bahasa UGM 2016


Share:

POLARIS

POLARIS
Wika G. Wulandari
            Orang bilang kota ini adalah kota nelayan. Ayah saya nelayan, kakek saya pun nelayan. Semua tetangga saya nelayan. Teman-teman SD saya dulu, bila ditanya apa cita-cita mereka, tanpa ragu dijawablah nelayan. Bahkan perempuan pun banyak yang ingin menjadi nelayan.
            Hanya saya satu-satunya yang bercita-cita keluar kota. Melihat wujud nyata ibukota, bapak kota, atau apa pun nama kota itu. Saya ingin belajar di kota orang. Mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, sebelum pulang dan menikah dengan seorang nelayan.
            Ayah awalnya tak mengizinkan. “Buat apa keluar kota? Di sini pun kau akan belajar banyak. Tentang laut, tentang para nelayan, dan apa pun yang ingin kau ketahui. Tak perlulah pergi jauh-jauh!”
            “Nelayan pun harus pergi jauh bila ingin dapat ikan banyak,” jawab saya sedikit ngeyel.
            Ayah tersenyum dan mengangguk. “Saya mengerti, Lia. Kau ingin pergi karena jenuh dengan kota ini. Kau ingin sesuatu yang baru. Penasaranmu tinggi, saya tahu itu. Biar saya pikirkan dulu. Kau anak perempuan saya satu-satunya. Tak tega saya melepasmu sendiri.”
            Bukan hal lumrah memang seorang perempuan di kota kami pergi merantau sendiri. Terlebih lagi bila belum menikah. Saya paham mengapa Ayah perlu waktu untuk mempertimbangkan permintaan saya. Selain karena biaya, Ayah pun tak rela bila harus mengambil risiko dan mengorbankan saya.
            Sambil menunggu keputusan Ayah, saya melihat teman-teman SD, yang sekarang sudah berkepala dua, melaut. Dari dulu hingga kini, tak satu pun yang meleset. Semua yang pernah bilang ingin jadi nelayan, benar-benar jadi kenyataan. Tapi tidak saya temukan binar bahagia di wajah mereka. Seperti mereka sudah tahu akhirnya akan begitu. Gampang ditebak.
            “Ikan apa yang kalian cari hari ini?” saya bertanya sambil duduk di ujung perahu.
            Yamin, laki-laki yang dulu pernah bilang suka ke saya, memandang laut sejenak. “Cuaca hari ini hanya memungkinkan kami menangkap cakalang. Kalau tidak dapat, tude pun tak apa.”
            “Kapan pulang?”
            “Besok subuh. Bila polaris sudah muncul.”
            Saya sering mendengar Ayah berbicara tentang polaris. Tapi saya tidak terlalu tertarik dengan nama itu. Tidak hanya Ayah, hampir semua nelayan yang saya kenal pun membicarakan tentangnya. Barulah ketika Yamin menyebut nama itu lagi, saya mulai penasaran.
            “Apa itu?”
            “Bintang yang kami gunakan untuk penunjuk jalan pulang.”
            “Oh, seperti kompas alami?”
            Yamin mengangguk sambil sibuk membereskan jala. Malam itu dia berangkat bersama tiga orang teman kami, Somad, Ipul, dan Acan. Mereka berempat memang sudah dekat sejak SD. Setelah melihat mereka mulai mendayung, saya memutuskan pulang jalan kaki.
            Di rumah Ayah sudah menunggu dengan sarung shalat dan secangkir kopi hitam. Dia memandang wajah saya lamat-lamat. Saya tahu apa yang sudah menjadi keputusannya.
            “Terimakasih, Ayah,” ujar saya seraya mencium tangannya penuh haru.
            “Jangan lupa pulang setahun sekali, Lia. Di rumah tinggal saya sendiri. Bila kau tidak pulang-pulang, saya akan hidup sebatang kara.”
            Saya mengangguk. “Tenang Ayah. Saya akan pulang. Bila perlu enam bulan sekali.”
***
            Terhitung sejak malam itu sudah satu tahun saya merantau di kota Merah. Jaraknya ribuan kilometer. Saya selalu menumpang kapal barang karena tak suka berdesak-desakkan di kapal penumpang. Walaupun lebih murah, di kapal barang saya selalu diberikan makan sehari sekali. Perjalanan ke kota Merah memakan waktu satu minggu penuh.
            Dan hari ini saya akan sampai di kota nelayan setelah satu tahun merantau. Ayah sudah saya kabarkan lewat pos dua bulan lalu. Dia menitip ikan asin dan jajanan khas kota merah. Karena banyak bawaan, saya meminta Ayah menjemput dengan becak.
            “Kau semakin gemuk, Lia,” ayah tertawa.
            Sepanjang perjalanan saya temui banyak perubahan di kota nelayan ini. Teman-teman tidak sempat berkunjung di hari pertama saya tiba. Mereka sibuk melaut. Katanya sekarang sedang musim ikan tuna, jadi mereka akan berkunjung besok atau lusa. Bila sempat.
            “Anak siapa itu, Yah?”
            Ayah tidak menjawab sampai kami melewati rumah Nyai Salamah. Dulu, setelah ibu meninggal, saya kerap dininabobokan oleh Nyai Salamah, bersama anak perempuannya, Sita. Saya lebih tua dua tahun dari Sita, tapi dia enggan memanggil saya kakak. Mungkin karena kami sudah terlalu dekat.
            “Itu anak Sita. Umurnya satu tahun.”
            Saya kaget bukan main. Setahu saya Sita harusnya lulus SMA tahun ini. Dia dulu adik kelas saya, pun pernah berpacaran dengan Acan. Tapi tidak lama karena Nyai Salamah mendapati mereka pernah berciuman di dekat tungku dapur.
            “Sita sudah menikah?”
            Ayah menggeleng canggung. Saya tahu maksud raut wajahnya. Dulu, hamil di luar nikah sungguh tabu di kota nelayan ini. Tidak ada yang berani melakukannya, pun bila sudah terjadi tak ada satu pun keluarga yang mau terang-terangan memamerkan hasil perbuatan anaknya.
            Terlebih lagi jika perempuan. Teman ibu dulu pernah hamil di luar nikah karena diperkosa pamannya sendiri. Sejak itu, tidak ada lagi pria yang mau menikah dengannya. Keluarganya pun enggan menerimanya di rumah. Dia diusir tanpa bekal dan uang. Saat ibu meninggal dia sempatkan datang melayat, walau hanya sejenak.
            “Siapa laki-lakinya, Yah?”
            “Jangan kau bahas lagi. Saya merasa tidak nyaman.”
            Akhirnya sisa perjalanan kami habiskan dalam diam. Tidak hanya keanehan itu yang saya temui. Sudah mulai ada pembangunan gedung-gedung tinggi. Kontraktor di mana-mana. Polusi yang saya kira hanya akan saya temui di kota merah, justru mulai ada di sini. Miris hati saya sebenarnya.
            “Banyak yang berubah,” saya bergumam sendiri.
            “Saya sudah tidak lagi mengenali kota ini, Lia. Semenjak kau berlalu dari dermaga itu, banyak yang hilang dari saya. Lalu, orang-orang berdasi itu pun turut mengambil sisa-sisa kenangan di kota nelayan ini.”
            Saya diam. Terlalu diam hingga suara lelah tukang becak bisa terdengar.
***
            Yamin datang bersama Sita, Acan, Somad, dan Ipul. Mereka membawakan singkong rebus, sambal mentah, dan sagu. Mereka memeluk saya satu per satu. Saya canggung bukan main, karena kami dulu tidak pernah seleluasa begini. Jangankan pelukan, jabat tangan pun terasa aneh bagi saya.
            “Adab baru,” gurau Acan.
            Pelukkan Sita cukup lama. Bila dibiarkan barang satu menit lagi, dia akan menangis di pundak saya. Sebagai teman yang dulu sering tidur siang bersama, saya mengerti ada begitu banyak beban yang ingin Sita ceritakan.
            “Kapan kau kembali, Lia?”
            “Saya tidak tahu. Jadwal kapal yang paling dekat baru dua minggu lagi. Itu pun bila tidak ada halangan. Ayah saya pun sepertinya belum mau saya kembali ke kota merah. Kalian tidak melaut?”
            “Mendung begini nelayan mana yang mau ke laut,” seloroh Ipul.
            Mulut saya begitu gatal ingin bertanya tentang kisah Sita dan anaknya. Tapi saya tahu itu tidak sopan. Jadi saya diam, menunggu para pria yang memancing atau Sita sendiri yang memulai.
            “Sita sudah punya anak, Lia,” akhirnya Somad berujar.
            Saya pura-pura kaget. “Kapan menikah?”
            Mungkin pertanyaan saya cukup di luar dugaan mereka, hingga Sita menatap Yamin cukup lama. “Dia tidak menikah. Ya, begitulah. Kecelakaan.”
            O, jadi mereka menyebutnya kecelakaan.
            “Siapa nama anaknya?”
            “Sandi.”
            “Umur berapa?”
            “Satu tahun sekarang. Lebih serang bersama Nyai daripada dengan Sita.”
            Melihat wajah Sita yang mulai tidak nyaman, saya mengubah topik pembicaraan. Saya ceritakan bagaimana kehidupan di kota merah. Bagaimana setiap kali saya melihat kapal saya selalu menahan diri agar tidak pulang. Mereka pun bertanya banyak hal. Hingga tak terasa senja mulai bertandang. Satu per satu membereskan piring-piring kosong. Sebelum pulang, mereka memeluk saya lagi. Sita hanya menepuk pundak saya pelan. Dia pun enggan menatap mata saya.
***
            Satu hari sebelum saya kembali ke kota merah, saya ingin melaut sendiri. Tidak perlu menangkap ikan, hanya berada beberapa kilometer di lautan kota saya ini. Lalu memandang kerlap-kerlip lampu rerumahan. Saya pinjam perahu ayah. Tak lupa saya bawa beberapa bohlam, lem, dan kayu yang sudah saya rangkai mengikuti rasi polaris.
            Acan pernah bilang, semua nelayan hanya akan pulang dengan petunjuk polaris. Bila rasi itu belum muncul, mereka akan tetap di atas laut. Menunggu hingga jalan pulang sudah bersinar.
            Lewat Acan pula saya belajar rasi polaris yang cukup rumit itu. Apa makna dari tiap-tiap sudut. Setelah mantap betul, saya rangkai kayu mengikuti rasi itu. Sesampainya di tengah laut, saya tempel bohlam ke setiap sudut yang ada. Untunglah nila IPA saya waktu SMA dulu selalu memuaskan. Tak pelik saya merangkai rangkaian listrik paralel yang dihubungkan ke aki motor.
            Saya acungkan tinggi-tinggi rasi polaris buatan saya ke arah kota nelayan. Mungkin bila kota saya benar-benar hidup dan merupakan kota nelayan, rasi polaris ini bisa mengembalikannya menjadi kota yang saya kenal dulu. Tidak lagi hura-hura seperti sekarang. Tidak lagi menganggap hal tabu sebagai hal yang wajar atau bahkan menjadikannya kebiasaan sehari-hari.
            “Pulanglah. Sudah saya buatkan polaris untukmu. Kembalilah seperti dulu lagi.”
            Hingga aki motor ayah saya habis, saya masih berada di tengah laut. Polaris buatan saya sudah mati. Kerlap-kerlip lampu di kejauhan pun mulai berkurang. Bila tahun depan kepulangan saya masih disambut oleh keadaan yang sama, mungkin polaris bukan lagi rasi kepulangan para nelayan.

*Cerpen ini menjadi juara I lomba penulisan cerpen Nasional Lautan 2017 yang dislenggarakan Teater Angin SMA N 1 Denpasar Bali.

Share:

Rangkong Dalam Cerita Ayah

Rangkong Dalam Cerita Ayah
Wika G. Wulandari

            Malam kelima Bulan Sya’ban, Ayah kembali membacakan cerita pengantar tidur yang ia tulis dalam pikirannya. Tidak hanya padaku Ayah tunjukkan cerita itu, tapi pada desir angin yang menghantar mendung, pada derik jangkrik yang lirih, pada neon-neon tua yang ringkih. Ayah bercerita dengan khidmat.
            “Saat umurmu lima tahun, kau senang memperhatikan burung rangkong dari jendela dapur,” Ayah memulai. “Kau pandai menirukan suaranya.Dan setiap malam sebelum tidur, kau berlagak seperti rangkong.Memutari pohon natal di dekat lemari buku ayah.Sampai kau lelah, sampai kau terkantuk-kantuk.”
             Aku menyeringai dan meminta Ayah melanjutkan.
            “Kau punya satu album tebal yang berisikan gambar rangkong.Kau bilang kau ingin punya mulut seperti rangkong.Besar dan tebal, agar bisa melahap semua masakkan Ibu tanpa sisa.”
            Aku tahu ada yang salah.Ada yang keliru dari cerita-cerita Ayah.Tentang rangkong yang tidak pernah muncul dalam kehidupanku sebelumnya. Tentang semua perilakuku waktu kecil yang sama sekali berbeda dengan apa yang kurasa. Tapi di hadapan Ayah, aku terkekeh.Berlagak seperti memang begitulah kehidupan kecilku dulu, begitulah aku melewati masa kanak-kanak bersamanya dan Ibu, bereaksi terhadap semua detail yang Ayah lontarkan. Tanpa pernah pikir ulang, tanpa pernah menanyakan.
            “Setiap malam kau buka album itu. Kau beri nama setiap foto yang ada. Yang Ayah ingat hanya satu, Garuda,” lanjut Ayah. “Kau ingat mengapa kau beri nama garuda?”
            “Karena Ayah?”
            Ayah mengangguk.
            Bahkan dengan jawaban tidak masuk akal pun, Ayah ikut larut bersamanya. Seakan percaya dan bahagia melihatku turut dalam alur cerita. Padahal tidak pernah kuingat ada adegan pemberian nama Garuda pada burung rangkong yang misterius itu. Pun janggal sekali bila garuda adalah refleksi Ayah. Tapi, kubiarkan mengalir.Seperti malam yang terus melarut bersama lelap para tetangga.
            “Dan karena setiap sore rangkong itu selalu ada di pohon ara, mengawasimu terkadang. Di antara puluhan foto rangkong yang kau punya, hanya Garuda yang paling kau sayang.”
            Bibirku terkatup rapat.Aku berlagak lagi, pura-pura berusaha mencari rasa yang dulu, mencari penggalan-penggalan kenangan tentang Garuda.Kukerutkan dahiku, sambil berpikir dalam diam, memang benar, bila umur makin bertambah, akan ada dua-tiga memori yang harus dikorbankan untuk dilupakan. Pengorbanan yang berharga dan egois.
            “Pernah album itu disimpan Ibu karena kau tak mau tidur siang.Saban hari kau merengek.Tak mau makan, tak mau mandi, tak mau turut ke gereja.Kau merontak di dalam kamar.Kau hancurkan semua susunan boneka di rak lemari.Kau lepas sepraimu, kau hamburkan bantal di lantai. Ayah hanya tersenyum melihat tingkahmu. Sedang Ibu sibuk bersiap diri ke gereja.”
            Ah, seperti itukah bila seseorang benar-benar mencintai sesuatu? Rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya? Dalam detak jarum jam yang mulai larut, aku kembali menyadari bahwa dulu, dulu sekali, ada bagian dari diriku yang begitu tergila-tergila dan polos, entah pada rangkong dalam cerita Ayah, atau pada bocah kecil seberang rumah yang pernah menawariku gula-gula.
            “Hingga kami kembali dari gereja, kau masih saja merajuk.Padahal sudah ibu bawakan rangginang kesukaanmu. Hahaha! Kau begitu lucu dulu.Sebenarnya bila kau teliti, kau bisa menemukan album kesayanganmu itu.Ibu hanya menyimpannya di lemari es, di bagian rak sayur.Tapi kau terlalu sibuk melempar apa saja yang ada di kamarmu.”
            Kami tertawa malam itu. Mencoba mengalahkan desir angin yang makin kencang. Pukul sembilan lewat lima belas menit, gerimis mulai turun. Ayah memakaikanku selimut.
            “Belum selesai, Ayah,” rengekku.
            Dia hanya mengangguk.“Besok kita lanjutkan lagi.”
            Untuk beberapa alasan, seperti kesenangan Ayah, aku tak bisa menolak bila saban malam Ayah selalu mendatangi kamarku. Menarik kursi kayu ke sisi tempat tidur dan mulai bercerita apa yang pernah dia alami dulu.
***
            Setelah ditinggal Ibu lima tahun lalu, Ayah mulai meninggalkan semua kegiatan yang mengharuskannya keluar rumah. Dia lebih memilih menungguku pulang, dengan secangkir teh hijau dan sebungkus biskuit. Kalau sudah begitu, kami akan berbincang cukup lama di teras belakang, sambil sesekali memanjatkan doa untuk Ibu.
Bulan lalu Ayah divonis menderita demensia, penyakit degenerasi yang perlahan menghapus ingatan-ingatan tertentu dan menghilangkan kemampuan motoriknya. Sejak itu dia sering memperlakukanku sebagai Arnia kecil, bukan Arnia dewasa yang sebentar lagi menyandang gelar doktor. Dan semenjak itulah Ayah mulai membacakan dongeng sebelum tidur, memakainkanku selimut, dan menunggu di ujung tempar tidur hingga aku benar-benar terlelap.
“Kau ingin mendengar lanjutan semalam?”
Meski terkadang aku terlalu lelah dan ingin segera tidur, teringat kembali pesan dokter yang memintaku untuk selalu mengajak Ayah berinteraksi. Pun aku tak bisa menolak seri semangat Ayah dan bagaimana dia selalu menggebu-gebu merangkai kejadian demi kejadian tentang rangkong dalam hidupnya. Dan perlahan aku disadarkan, pada malam-malam selanjutnya, dalam semua cerita Ayah ada rindu untuk kembali. Ada keinginan untuk berkumpul bersama sanak keluarga, membayar kembali waktu-waktu yang terlewatkan.
“Sebelum Ibu meninggal, Ibu meminta Ayah untuk membelikan boneka rangkong kesukaanmu. Waktu ditanya mengapa, ibu ingin tahu apa yang kau rasakan dulu saat setiap malam tidur bersama boneka rangkong. Susah sekali mencari boneka rangkong kala itu. Karena tak punya banyak waktu, Ayah pesan langsung ke tukang boneka.”
“Mengapa tidak ambil bonekaku?”
“Semua bonekamu dan albummu ditinggalkan di Kalimantan.Itulah mengapa kau mati-matian tidak mau naik ke pesawat dulu.Bila esok lusa kau kembali ke Kalimantan, ambilkan semua barang-barangmu.Tata rapi di lemari kayu punya Ibu. Agar esok lusa bila Ayah bercerita kenangan lalu, kau bisa melihat dan membayangkan dengan nyata.”
Aku mengangguk.Semakin hari, semakin bingung aku harus bagaimana menanggapi cerita Ayah.Bukan karena aku tak pandai bersandiwara, tapi lantaran aku tahu kehidupan masa kecilku tidak seperti yang diceritakan Ayah.Ada gejolak ingin protes dalam dada, gejolak yang sudah kutahan belasan hari. Berharap suatu saat akan luntur sendiri.
Lewat cerita-cerita Ayah, aku akhirnya tahu, banyak kenangan yang telah luntur dari ingatannya.Yang benar-benar bertahan di dalamnya hanyalah perasaan sedu sedan tentang hari-hari kelam di masa mudanya. Sesekali, dengan perasaan kosong, Ayah bercerita, dalam gigil tangis yang tak bersuara, sedih yang tak terkira, Ayah menuangkan penyesalannya sangat pekat.
“Rangkong hanya suka pada pohon yang lebih tinggi dari pohon lain. Di dekat rumah kita dulu ada pohon ara yang lebih tinggi di antara pepohonan yang lain. Ketika pohon ara ditebang, rangkong itu bingung. Hampir seharian rangkong itu hanya terbang mengawang di udara.Entah karena bingung ke mana habitatnya yang dulu atau bingung menemukan habitat baru.”
Saat tak ada lagi yang bisa dilanjutkan atau diceritakan, Ayah akan menatap lantai. Menyembunyikan bola matanya yang berkaca-kaca.Atau mengenggam erat tanganku, memintaku cepat terlelap agar dia bisa menikmati kesedihan di pojok kamarnya. Ketika tidak ada lagi yang bisa disampaikan, Ayah membiarkan lirih suara jangkrik mengisi kekosongan di antara kami. Sambil sesekali menggumamkan lantunan lagu lawas.
            Lalu kuingat dulu betapa sering lagu itu disenandungkan Ibu di antara perapian dan asap-asap masakkan. Kuingat pula saat ini, waktu Ayah merawat tubuh lemah Ibu karena digerogoti kanker dan diabetes, hanya lagu-lagu lawas yang Ayah nyanyikan untuk mengantarkan Ibu pada lelap. Hingga ketika lelap Ibu benar-benar panjang, dan tak ada seorang pun yang berani  berharap Ibu akan terbangun dari lelap itu, Ayah hadiahkan sebuah lagu lawas berjudul di batas kota ini dengan gumaman sendu.
Dan di rongga dadaku seperti ada badai pasir yang menggerakkan daun-daun ilalang.Mencabik-cabik, mengoyak, menoreh luka di sana-sini, meninggalkan pedih yang juga sangat[1].
***
            Satu malam di antara sekian banyak malam dengan cerita pengantar tidur, wajah Ayah hambar. Di sandaran tempat tidur, aku sudah menunggu, seperti biasa, dengan banyak rekaan adegan pura-pura.
            “Kau tahu hewan apa yang setia?”
            “Buaya, angsa, mungkin.”
            “Rangkong, Arnia. Rangkong itu setia.”
            “Seperti Ayah?”
            Ayah terkekeh. “Ibumu yang setia. Ayah belum tentu.”
            Aku tersenyum dan mengangguk. Ayah melanjutkan. “Rangkong jantan begitu menyayangi rangkong betina.Dibawakannya makanan saat si betina sedang mengerami telur di lubang pohon.Selama empat bulan berturut-turut, Arnia.Bila kau bunuh rangkong jantan, itu sama hal dengan kau menelantarkan induk dan anak-anaknya.”
            Bagiku itu hal yang wajar.Jantan mencarikan makanan untuk betina saat si betina sedang mengeram telur.Tidak ada yang begitu spesial dari cerita ayah. Tapi ketika melihat wajah Ayah begitunelangsa, di antara bohlam-bohlam kuning, aku tidak tega untuk menyela. Toh, di antara semua malam yang Ayah hadirkan dengan cerita pengantar tidur, pada akhirnya yang benar-benar kupentingkan adalah kesehatan Ayah.
            “Bagaimana kalau rangkong jantan mati sebelum masa pengeraman telur selesai?”
            Ayah diam. “Kau selalu suka akhir yang sedih, ya.”
            Bahkan sebelum larut mengetuk jendela kamar, Ayah mengakhiri ceritanya. Semua lampu Ayah matikan. Aku tak tahu ruangan mana yang menjadi tempat tumpahan kesedihan dan kerinduan Ayah malam ini, setelah tadi malam menghabiskan pekat air matanya di depan lemari kayu Ibu.
***
            Aku tahu, ketika Ayah pertama kali membacakan cerita pengantar tidur yang dia tuliskan dalam kepalanya, aku teramat sadar cerita itu bukan tentang masa kecilku. Sejak dulu, sejak lahir tak pernah sekali pun aku menginjakkan kaki ke Kalimantan, kota kelahiran Ayah. Dan aku pun tak pernah melihat burung rangkong terbang bebas di sekitaran pohon ara.
            Aku sadar, semua memori yang Ayah tuangkan dalam ceritanya adalah penggalan masa lalunya yang masih kuat menancap, meski demensia perlahan-lahan menggerus habis kenangan yang tersisa. Tapi kubiarkan Ayah bercerita, bercerita tentang masa lalunya yang kelam, yang dulu hanya Ibu yang tahu.
            Rangkong-rangkong yang Ayah ceritakan  adalah bentuk penyesalan masa mudanya. Dulu, dulu sekali, Ayah adalah pekerja lepas di sebuah organisasi ilegal. Demi menghidupi adik, kakak, dan ibunya, Ayah turut serta dalam penebangan liar di hutan Kalimantan. Semua pohon ara, pohon mahoni, dan pohon apa saja yang terlihat kokoh akan ditebang, tanpa pilah, tanpa berpikir dua kali. Bila beruntung, satu-dua ekor rangkong ikut dimangsa, diambil paruhnya, dan dijual ke pasar gelap.Hasil penjualan paruh rangkong bisa menghidup keluarganya selama satu minggu.
            Ibu pernah bercerita jumpa pertamanya dengan Ayah. Setelah dua bulan di bui dengan denda dua ratus ribu rupiah, Ayah dibebaskan. Di depan kantor polisi tempat Ayah mendekam itulah mereka pertama kali bertemu, berinteraksi dan menjadi titik awal kebersamaan. Sejak itu Ayah mulai berubah, tidak lagi menebang liar, tidak lagi berburu rangkong. Namun karena harus merawat Ibu, Ayah terpaksa meninggalkan Kalimantan. Pulang ke rumah mertua.
            Saban malam di langit Jakarta, Ayah gelisah. Memikirkan bagaimana nasib-nasib rangkong sekarang. Hingga kini, ketika aku adalah hal berharga yang tersisa dalam hidupnya, Ayah masihmenyimpan rasa yang dulu. Satu yang berubah adalah penyesalan dan kegundahan yang bertahun-tahun dialaminya, Ayah tumpahkan dalam cerita rangkong yang dibacakannya sebelum aku terlelap.
            Bahkan sebelum Ayah ikut terlelap bersama Ibu, sempat dikatakannya satu patah kalimat. “Jangan merenggut kesenangan makhluk lain. Sesal itu menyengsarakan dan mematikan.”




[1]Sebuah Kisah Sedih karya Puthut EA.

*Cerpen ini menjadi  juara III dalam sayembara menulis cerpen yang dislenggarakan Balai Bahasa Yogyakarta 2017
Share: